Jalan Terakhir

    Jalan Terakhir
    Siti Fatichatus Sarifah

Pak Abdul tidak bisa menahan amarahnya ketika mendengar pengakuan Larasati, putri sulungnya yang kini berstatus mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di Malang. Dengan disaksikan seluruh anggota keluarga, Larasati mengakui kalau dia ternyata telah berbadan dua padahal belum menikah. Pak Abdul tidak bisa memaafkan apa yang sudah dilakukan Larasati. Meskipun Bu Aminah, istri Pak Abdul, sudah memperingatkan Pak Abdul agar bersabar, tetapi tetap gagal, Larasati pun diusir dari rumah.
Langkah Larasati lunglai membawa sebuah koper bersamanya. Sungguh berat meninggalkan rumah yang telah menerimanya selama 22 tahun sebelum hari itu tiba. Tetapi akan lebih berat jika ia serumah dengan amarah sang ayah. Keluar dari rumah nyatanya juga membuat Larasati linglung, ia tak punya siapa-siapa untuk didatangi selain Jono, pacarnya. Tak mungkin bagi Larasati mendatangi Jono, ia sudah dua bulan tak memunculkan batang hidungnya.
“Dasar pengecut!” umpat Larasati ketika otaknya sudah buntu.
“Bisa-bisanya kau ini menitipkan bocah di perutku lalu kabur begitu saja. Ah, seandainya laki-laki bisa hamil, pasti kuoper padamu bocah ini dan aku tak perlu keluar dari rumahku. Kamu yang menikmati tubuhku dan aku yang diusir. Tidak adil!” geremeng Larasati tanpa henti.
***
Kosan adalah satu-satunya tempat yang bisa menerima Larasati karena orang tuanya sudah membayar genap satu tahun. Lara masih mengambil jatah setengah tahun menginap di kosan itu, ada waktu setengah lagi untuk tidur gratis di kos dan mencari Jono.
“Jono harus ikut merawat bocah ini!” tegasnya pada cermin yang memantulkan wajah muaknya.
“Aku bukan pengecut yang meremas atau pun memaksa keluar bayiku sendiri. Tapi, aku juga bukan wanita dermawan yang mau-mau saja dibohongi dan ditinggalkan lelaki seperti ini. Berbuat bersama, bertanggung jawab bersama!”
Larasati tetap ke kampus sembari berharap akan bertemu Jono. Ia mulai bekerja paruh waktu untuk menyambung biaya makan. Ia terus mencari informasi tentang keberadaan Jono dari teman-teman akrab sekeleasnya. Kebetulan Larasati dan Jono hanya berbeda kelas, mereka berada di jurusan yang sama: Biologi.
***
“Masih ingat materi barusan?” Jono memulai percakapan
“Reproduksi?”
“Ada kelas tambahan nih sekarang.”
“Di mana?
“Satu SKS di tempat ini, mata kuliah praktikum.”
Tak ada kata lagi yang mengiringi praktikum keduanya di ranjang kontrakan Jono. Suasana sepi mendukung aksi mereka. Sesekali desahan nafas keduanya berkejaran memcah keheningan. Cucuran keringat menjadi bukti bahwa keduanya saling menikmati. Siang tak berarti tanpa kenikmatan.
Tepat lima puluh menit mereka mengakhiri kuliah.
“Efektif sekali,” komentar laki-laki gendut itu sembari tetap mendekap Larasati.
“Kamu ini.”
“Kuliah mandiri itu lebih menyenangkan rupanya. Tak perlu diusik dosen.”
“Kalau praktikum gini dibimbing dosen, salah-salah dosen ambil jatah, Sayang”
“Kita kan sudah dewasa dan tidak perlu bimbingan dosen lagi untuk praktikum begini. Malah kebanyakan teori nanti kalau ada pembimbing”
Jono mendaratkan kecupan di pipi berkali-kali untuk menutup praktikumnya.
***
Larasati membanting memorinya tentang tawa dan kecupan Jono menutup perjumpaannya siang itu. Ia membenci dirinya sendiri. Ia juga membenci orang tuanya.
“Ini salah bapak!”
Sorak riuh setan-setan yang mendampingi Lara semakin memperkeruh suasana batinnya.
“Kenapa Bapak memberiku nama Larasati? Bukankah nama itu adalah doa? Dan aku selalu ‘Lara’ akibat doa orang tuaku sendiri.”
“Laras.”
Larasati mengenali suara itu. Suara itu membangkitkan semangatnya untuk menengok ke arah datangnya. Mendapati sosok di hadapannya, justru ia tak dapat berkata-kata lagi. Umpatan yang selama ini ia lampiaskan pada cermin luluh begitu saja. Laki-laki di hadapannya tak segendut dua bulan yang lalu.
“Will you marry me?”
Otak Larasati buntu menerjemahkan bahasa asing itu. Bahkan ia belum bisa menerjemahkan laki-laki yang berdiri di hadapannya.
“Kamu lebih kurus,” komentar bodoh itulah yang akhirnya memecah ketidakyakinannya pada kenyataan.
“Ambil tasmu, kita pulang ke Trenggalek sekarang.”
“Kamu….”
Tanpa menunggu kalimat Larasati, Jono menarik lengannya untuk segera berkemas. Larasati tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti Jono karena hal itu yang sebenarnya dia inginkan.
***
“Saya ingin menikahi putri, Bapak.”
Orang tua Larasati terkejut dengan kedatangan sepasang kekasih yang salah satunya adalah putri kandungnya.
“Kamu ini, seenaknya saja menanam benih, meninggalkan anak orang, menelantarkan, lalu sekarang semaunya saja meminta menikah. Kamu masih belum bekerja, mau kamu kasih makan apa anak dan cucuku nanti?”
“Saya hanya butuh Bapak sebagai wali, enam orang saksi, dan penghulu.”
***
“Saya terima nikahnya Larasati Binti Abdullah dengan mas kawin uang dua ratus ribu rupiah dibayar tunai.”

Kritik dan Saran yang membangun ^_^!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: