SEKILAS TENTANG ANALISIS WACANA

Deskripsi Peta Konsep

Kajian bahasa secara ilmiah dimulai sejak abad ke-19 yang dipelopori oleh Ferdinant de Saussure. Kajian linguistik pada umumnya hanya terbatas pada masalah unsur-unsur bahasa dan unsur makna. Namnun, banyak permasalahan bahasa yang belum dapat diselesaikan dengan ilmu tersebut sehingga para ahli mencoba mengembangkan disiplinilmu baru yang disebut analisis wacana. Prinsip-prinsip dalam analisis wacana sudah pernah dipikirkan oleh ahli bahasa anad ke-19 seperti konsep form yang dipertentangkan dengan subtance.
Ricour (1991) dalam Santoso (2011:18)membedakan langue ‘bahasa’ dan discourse ‘wacana’ atau ‘diskursus’. Langue menuju pada bahasa secara umum, sementara discourse merujuk pada bahasa yang dipakai dengan kalimat sebagai satuan pembentuknya. Pengertian wacana dapat dilihat dari tiga sudut pandang yaitu wacanna sebagai satuan bahasa, sebagai hasil dan proses, serta sebagai penggunaan bahasa. Wacana sebagai satuan bahasa dipadankan dengan istilah discourse. Wacana mempunyai acuan yang lebih luas dari sekadar bacaan. Selanjutnya, wacana sebagai hasil dan proses memerlukan adanya penyapa dan pesapa. Sementara wacana sebagai penggunaan bahasa, wacana merupakan satu kesatuan semantik. Para analis wacana bekerja berdasarkan makna yang telah disepakati oleh para pemakai bahasa dalam proses komunikasi.
Analisis wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal yang lebih memperhatikan pada unit kata, frasa, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan antara unsur tersebut (Eriyanto, 2001:3). Analisis wacana merupakan suatu kajian yang menganalisis bahasa yang digunakan untuk komunikasi. Data analisis wacana selalu berupa teks (lisan maupun tulis) yang bersumber dari pemakai bahasa. Menurut Gurning, analisis terhadap wacana tertentu sebagai suatu praktik diskursif memfokuskan analisis pada proses produksi, distribusi, dan konsumsi dalam latar ekonomi, politik, dan institusi dengan ideologi yang berbeda. Analisis wacana mulai berkembang ketika Zellig Harris mempublikasikan makalahnya yang berjudul Discourse Analysis pada tahun 1952. Sementara itu, kajian wacana di Indonesia mulai berkembang pada pertengahan 70-an.
Manfaat analisis wacana, selain dapat memahami hakikat bahasa juga untuk memahami proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa. Bahkan analisis wacana dapat dimanfaatkan sebagai dasar untuk membina kemampuan berbahasa. Analisis wacana memiliki beberapa fungsi, diantaranya fungsi bahasa dalam komunikasi, fungsi ekspresi, direksi, informasional, metalingual, interaksional, kontekstual, dan puitik. Fungsi bahasa dalam komunikasi jika dilihat berdasarkan tanggapan atau respon mitra tutur ada dua macam, yaitu fungsi transaksional dan fungsi interaksional. Fungsi transaksional mementingkan isi komunikasi, sementara fungsi interaksional mementingkan hubungan timbal balik antara penyapa dengan pesapa. Fungsi ekspresif berarti bahasa digunakan untuk menyampaikan ekspresi penyampai pesan (komunikator). Fungsi direktif, bahasa digunakan untuk mempengaruhi orang lain, baik itu emosinya, perasaannya, maupun tingkah lakunya. Fungsi informasional digunakan untuk menginformasikan sesuatu. Fungsi metalingual berfokus pada kode yang digunakan untuk menyatakan sesuatu tentang bahasa. Fungsi interaksional menyatakan bahwa bahasa digunakan untuk mengungkapkan, mempertahankan, dan mengakhiri suatu kontak komunikasi antara penyampai pesan dan penerima pesan. Fungsi kontekstual berpedoman bahwa suatu ujaran harus dipahami dengan mempertimbangkan konteksnya. Terakhir fungsi puitik, maksudnya kode kebahasaan dipilih secara khusus agar dapat mewadahi makna yang hendak disampaikan oleh sumber pesan.

Daftar Rujukan:

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LkiS, (Online), (http://www.worldcat.org/title/analisis-wacana-pengantar-analisis-teks-media/oclc/47726360/viewport), diakses pada 22 April 2013
Gurning, Busmin. ___. Analisis Wacana Kritis: Analisis Bahasa berdasarkan Fungsi Sosial, (Online), (http://digilib.unimed.ac.id/public/UNIMED-Journal-21955-Busmin%20Ginting.pdf), diakses pada 22 April 2013.
Santoso, Anang. 2011. Bahasa Perempuan: Sebuah Potret Ideologi Perjuangan. Jakarta: Bumi Aksara.

Kritik dan Saran yang membangun ^_^!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: