POLISEMI DALAM BAHASA INDONESIA
oleh Siti Fatichatus Sarifah

1. Pengertian Polisemi
Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang bersifat arbriter namun juga konvensional, digunakan sekelompok masyarakat sebagai alat komunikasi. Menilik dari sifatnya yang arbriter, maka banyak bermunculan kata-kata baru seiring dengan berjalannya waktu. Di samping banyak bermunculan kata baru, terjadi pula penggunaan sebuah kata untuk menggambarkan berbagai macam maksud asalkan disepakati. Penggunaan bahasa yang berganda itu, atau lebih tepat kita katakan sebuah bahasa yang bermakna banyak merupakan bentuk polisemi.
Polisemi berbanding terbalik dengan sinonimi, sinonimi merupakan dua buah kata atau lebih yang memiliki kemiripan makna, sementara polisemi merupakan sebuah kata memiliki berbagai macam makna. Polisemi berasal dari kat poly dan sema, poly yang berarti banyak dan sema berarti tanda, sehingga polisemi berarti “satu bentuk memiliki beberapa makna” (Keraf, 2010:36). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 2010), polisemi merupakan bentuk bahasa, baik berupa kata maupun frasa yang mempunyai makna lebih dari satu. Hal yang serupa diungkapkan Wikipedia (2012) bahwa polisemi merupakan suatu kata yang mempunyai makna lebih dari satu. Sementara menurut Achfandi (2012), polisemi adalah kata-kata yang memiliki makna atau arti lebih dari satu karena adanya berbagai komponen konsep dalam pemaknaan suatu kata. Polisemi tersebut berasal dari satu kata, mempunyai hubungan makna, dan digunakan secara konotatif kecuali kata induknya.
Polisemi lazim diartikan sebagai satuan bahasa terutama yang berupa kata, namun juga bisa frasa yang memiliki makna lebih dari satu. Sebelum kemunculan polisemi, sebuah kata hanya memiliki satu makna, yaitu makna yang disebut makna leksikal atau makna yang sesuai dengan referennya. Dalam perkembangan selanjutnya makna yang sesuai dengan referennya itu disebut makna asal, sementara di samping makna asal, sebuah kata masih mempunyai makna yang lain. Makna-makna yang bukan makna asal dari sebuah kata bukanlah makna leksikal sebab tidak merujuk kepada referen dari kata itu. Lagi pula kehadirannya harus dalam satuan-satuan gramatik yang lebih tinggi dari kata, misalnya frasa atau kalimat (Chaer, 2009:101—103).
Pendapat lain datang dari Aminuddin (2011:123) yang mengatakan bahwa polisemi merupakan hubungan kebahasaan yang mengandung makna yang berbeda-beda dengan perangkat makna yang dimunculkan. Lebih lanjut, menurut Ullman dalam Aminuddin (2011:123), terdapat beberapa unsur penyebab polisemi. Terdapat empat unsur yang menyebabkan polisemi, keempat unsur tersebut yaitu sebagai berikut. (1) Spesifikasi dalam ilmu pengetahuan, misalnya kata bentuk dalam bidang kebahasaan, arsitektu, maupun seni rupa memiliki makna yang berbeda-beda sesuai dengan bidangnya. (2) Spesialisasi pemakaian dalam kehidupan sosial-masyarakat yang beraneka ragam sehingga kata jalan oleh para sopir diartikan “bekerja”, oleh para pedagang diartikan “laku”, sementara kaitannya dengan pertemuan diartikan “berlangsung”. (3) pemakaian dalam gaya bahasa, misalnya puisi, sehingga kata darah dan beku dalam baris puisi Chairil, Nanti darahku jadi beku, telah mengalami penambahan maupun perpindahan makna. (4) Dalam tuturan lisan maupun tulis yang salah, bentuk seperti kelapangan dapat mengandung makna “sesuatu yang lapang” dan “pergi ke lapangan”.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa polisemi merupakan satu bentuk bahasa, utamanya berupa kata atau dapat pula berupa frasa yang memiliki beberapa makna (satu kata/frasa, banyak makna. Makna satuan bahasa tersebut masih memiliki keterkaitan, baik berupa makna denotatif (sebenarnya) maupun makna konotatif (kiasan).

2. Bentuk-Bentuk Polisemi
Dalam perkembangan bahasa sebagai alat komunikasi, polisemi muncul akibat empat hal. Keempat hal tersebut adalah sebagai berikut. (1) Adanya perluasan pemakaian sebuah kata yang pada mulanya digunakan untuk satu konteks tertentu kemudian digunakan pada konteks yang lain. (2) Adanya pemakaian yang khas pada suatu lingkungan tertentu kemudian digunakan oleh lingkungan masyarakat yang lain sehingga menimbulkan majna baru dari sebuah kata atau kelompok kata. (3) Adanya pemakaian suatu kata untuk membentuk kata kiasan yang jelas berbeda dengan makna leksikal suatu kata. (4) Adanya pemberdayaan sebuah kata pada beberapa konteks berdasarkan pada makna dasarnya atau tetap berhubungan dengan makna konseptualnya.
Menurut Wijaya (2012), polisemi dalam bahasa Indonesia berdasarkan bentuknya dibedakan menjadi dua, yaitu polisemi berbentuk kata dasar, dan polisemi kata turunan.
a) Polisemi Kata Dasar
Kata ialah satuan gramatik terkecil yang sudah dapat berdiri sendiri atau berdiri bebas secara morfologis . Sementara itu, bentuk dasar ialah satuan gramatik yang menjadi dasar bentukan satuan gramatik lain yang lebih besar. Bentuk dasar itu berada setingkat lebih rendah dari satuan gramatik lain yang lebih besar (Sumadi, 2010:12—19).
Selanjutnya menurut Wijaya (2012) polisemi berbentuk kata dasar merupakan polisemi yang berupa morfem bebas dan tidak mengalami proses afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan. Contoh polisemi kata dasar, misalnya kata kepala mula-mula hanya bermakna sebagai bagian dari tubuh yang berada di bagian atas. Kemudian mengalami perubahan makna, kata kepala memiliki makna lain selain makna secara leksikal, yaitu bermakna ‘pimpinan’ pada kata kepala TU, kepala sekolah, kepala administrasi dan sebagainya.

b) Polisemi Kata Turunan
Selain pada bentuk dasar, polisemi juga terjadi pada bentuk kata turunan. Polisemi berbentuk kata turunan adalah polisemi yang berbentuk kata turunan atau kata yang sudah mengalami proses afiksasi, reduplikasi, maupun pemajemukan. Misalnya pada kata mencetak. Pada mulanya hanya digunakan pada bidang penerbitan buku, majalah, atau koran. tetapi kemudian maknanya menjadi meluas seperti tampak pada kalimat-kalimat berikut: Persija tidak berhasil mencetak gol. Pemerintah akan mencetak sawah-sawah baru. Kabarnya dokter akan mencetak uang dengan mudah. Pada kalimat pertama kata mencetak berarti ‘membuat’ atau ’menghasilkan’; pada kalimat ang kedua berarti ‘membuat’ dan pada kalimat yang ketiga berarti ‘memperoleh, mencari, mengumpulkan, dan menghasilkan’ (chaer, 1995:142).

3. Makna Polisemi
Makna kata dalam polisemi ini dibedakan menjadi dua kelompok besar, yakni makna konotatif dan makna denotatif. Makna konotatif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tautan pikiran yang menimbulkan rasa pada seseorang ketika berhadapan dengan sebuah kata atau makna yang ditambahkan pada makna denotasi. Sederhananya, makna konotasi adalah makna kias, makna kata yang bukan sesungguhnya. Sementara itu makna denotasi adalah makna kata atau kelompok kata yang didasasrkan atas penunjukkan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan atas konvensi tertentu dan bersifat objektif. Singkat kata, makna denotasi adalah makna yang sebenarnya dari sebuah kata atau kelompok kata.
Selain itu, Wijaya (2010) menambahkan, makna polisemi dapat mengalami perubahan. Berdasarkan pemakaiannya, bahasa mengalami pergeseran, perkembangan, atau perubahan makna yang terjadi dengan berbagai cara sebagai berikut. (1) Meluas, yakni bila suatu bentuk kebahasaan mengalami berbagai penambahan mekna yang keseluruhannya digunakan secara umum. (2) Penyempitan, yakni apabila makna suatu kata semakin spesifik. (3) Peyorasi, yakni apabila makna suatu kata akhirnya dianggap memiliki nilai yang rendah atau memiliki konotasi negatif. (4) Ameliorasi, yakni bila suatu kata memiliki makna yang lebih baik dari sebelumnya.

4. Penggunaan Polisemi
Dewasa ini, banyak kata yang mengalami polisemi utamanya bahasa media masa. Untuk itu penulis mengambilkan contoh kata-kata polisemi dari media masa. Beberapa kata tersebut antara lain: kencang, bergerak, kata hati, dan kental (sumber: Koran Pendidikan edisi 438 halaman 17); menyimpang, dan berbau (sumber: Malang Post, 2012 halaman 4)
a) Kencang
(Diakui oleh Randy, jiwa enterpreuner tersebut sudah ada sejak ia masih SMA, dan cita-cita tersebut kian kencang setelah ia membaca buku-buku penuh inspirasi.)
Dalam Kamus Besar Baha Indonesia kata kencang mempunyai makna leksikal “(1) tegang; tidak kendur, (2) laju; cepat, dan (3) erat-erat; erat dan kuat. Jika menilik dari makna leksikal tersebut maka kata kencang sangat tidak sesuai digunakan dalam cuplikan kalimat berita tersebut. Namun, karena bahasa memiliki keistimewaan makna lebih dari satu (polisemi) kata kencang pada berita tersebut memiliki makna di luar makna leksikal. Kata kencang yang dimaksud jika dilihat dari konteks kalimat dan fungsinya bermakna ‘yakin’. Jadi, menurut konteks kalimat tersebut, Randy semakin yakin dengan cita-citanya setelah membaca buku-buku yang penuh inspirasi. Kata kencang termasuk ke dalam polisemi bentuk dasar.

b) Bergerak
(Siapa sangka, tak harus menunggu lama, siswa yang juga peraih runner up duta wisata Batu ini telah mampu mengelola sebuah usaha yang bergerak di bidang broadcasting)
Kata bergerak termasuk ke dalam bentuk polisemi kata turunan ditandai dengan adanya afiks {ber-} pada bentuk dasar {gerak}. Bergerak secara leksikal memiliki arti ‘melakukan gerakan’. Sementara secara polisemi, kata bergerak ini memiliki arti ‘arah usaha atau spesifikasi’. Jadi, maksud kalimat tersebut ialah menjelaskan bahwa arah usaha atau spesifikasi usaha yang dimiliki oleh Randy itu adalah bidang broadcasting.

c) Kata Hati
(“Tokoh-tokoh teresbut begitu inspiratif dan saya pun ingin menjadi seperrti mereka dan selalu mengikuti kata hati,” Kata Randy.)
Kata hati merupakan bentuk polisemi kata turunan dan bermakna konotatif. Kata hati merupakan kata majemuk yang terbentuk dari proses pemajemukan {kata} + {hati} = {kata hati} ‘perasaan seseorang atau nurani’. Dilihat dari asal katanya, kata berarti satuan gramatik terkecil yang sudah dapat berdiri sendiri, sementara hati berarti bagian dari tubuh (organ tubuh). Ketika mengalami proses pemajemukan, kedua kata tersebut menjadi sebuah kata yang disebut kata majemuk dan memiliki makna baru yaitu ‘perasaan seseorang atau nurani’.

d) Kental
(Keempat manajemen tersebut sangat kental dengan dunia broadcasting)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 2010), kental berarti keadaan antara cair dan keras. Biasanya kata kental digunakan untuk benda-benda yang berupa zat cair. Misalnya pada kalimat Anjar lebih suka membuat susu yang agak kental dan manis, maka kental yang dimaksud adalah keadaan antara cair dan keras. Namun, dalam tulisan di media masa tersebut telah terjadi polisemi bentuk kata dasar sehingga kata kental di situ berarti ‘akrab, sangat berhubungan’. Dilihat dari konteks kalimat tersebut, kata kental berfungsi menunjukkan bahwa manajemen yang dimiliki Randy sangat berhubungan dengan masalah broadcasting.

e) Menyimpang
(Meski di kota Malang belum pernah ditemui beredarnya buku maupun LKS yang menyimpang, dikbud sudah mengantisipasi.
Kata menyimpang pada kalimat tersebut mengalami polisemi bentuk kata turunan ditandai dengan digunakannya afiks {meN-} pada bentuk dasar {simpang}. Kata menyimpang biasanya digunakan untuk menyatakan keadaan sebuah kendaraan yang tidak berada di jalur yang tepat. Kata menyimpang bermakna membelok menempuh jalan yg lain atau jalan simpangan (KBBI, 2010). Namun pada kalimat tersebut, kata menyimpang mempunyai makna lain yaitu ‘tidak sesuai dengan ketetapan atau tidak sesuai dengan aturan’. Kalimat tersebut menginformasikan bahwa memang belum ada LKS yang tidak sesuai aturan dikbud namun dikbud sudah mengantisipasinya.

f) Berbau
(Selain itu, beberapa waktu lalu kasus kunci jawaban berbau komunis di LKS Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) beredar di Sukabumi.)
Kata berbau mempunyai makna mempunyai bau atau mengeluarkan bau (KBBI, 2010) kata tersebut merupakan polisemi bentuk kata turunan ditandai dengan adanya afiks {ber-} pada bentuk dasar {bau}. Kata berbau identik dengan fungsi indra penciuman, namun pada tulisan di media masa tersebut kata berbau tidak lagi berhubungan dengan indra penciuman. Kata berbau di atas bermakna ‘berkaitan, sesuatu yang sedikit mengarah atau membahas atau menyinggung’. Maksud konteks kalimat tersebut ialah …kasus kunci jawaban yang berkaitan atau membahas sesuatu yang berkaitan dengan komunis di LKS PKn.

5. Penutup
Dari bahasan di atas dapat disimpulkan bahwa polisemi merupakan satu bentuk bahasa, utamanya berupa kata atau dapat pula berupa frasa yang memiliki beberapa makna (satu kata/frasa, banyak makna. Makna satuan bahasa tersebut masih memiliki keterkaitan, baik berupa makna denotatif (sebenarnya) maupun makna konotatif (kiasan). Polisemi dilihat dari bentuknya ada dua macam, yakni polisemi kata dasar dan polisemi kata turunan. Makna dalam polisemi juga ada dua, yaitu makna denotatif dan makna konotatif. Polisemi sering kita jumpai pada tulisan-tulisan di media masa, pada bahasan di atas penulis mencontohkan kata kencang, bergerak, kata hati, kental, menyimpang, dan berbau.

Daftar Rujukan

Achfandi. 2012. Pengertian Polisemi, Hipernim, dan Hiponim, (Online), (http://17april87.blogspot.com/2012/04/pengertian -polisemi-hipernim-hipernim.html), diakses pada 19 Desember 2012.
Aminuddin. 2011. Semantik: Pengantar Studi tentang Makna. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Chaer, Abdul. 1995. Linguistik Umum. Jakarta: Asdi Mahasatya.
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2010. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Online), (http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php), diakses pada tanggal 19 Deember 2012.
Eno. 2012. Penawaran LKS Harus Diketaui Dikbud. Malang Post, hlm. 4.
Keraf, Gorys. 2010. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
Nia. 2012. Randy Gaung Kumaraning Al Islam: Sukses jadi Enterpreuner Muda. Koran Pendidikan, hlm. 17.
Sumadi. 2010. Morfologi Bahasa Indonesia. Malang: UM Press.
Wijaya, Ririe. I Think, (Online), (http://thinkwijaya.blogspot.com), diakses pada 19 Desember 2012.
Wikipedia. 2012. Polisemi, (Online), (http://id.wikipedia.org/polisemi), diakses pada 19 Desember 2012.

Kritik dan Saran yang membangun ^_^!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: