Kisah Cinta Asri dan Asnah Berbalut Adat Minang dalam Novel Salah Pilih Karya Nur Sutan Iskandar

KISAH CINTA ASRI DAN ASNAH BERBALUT ADAT MINANG
DALAM NOVEL SALAH PILIH KARYA NUR SUTAN ISKANDAR
Oleh Siti Fatichatus Sarifah

Sebuah karya sastra lahir dari seorang pengarang. pengarang memiliki tempat tinggal yang pastinya memiliki kebiasaan yang tak mungkin ditinggal oleh warga masyarakat di tempat itu. Selanjutnya, hal itulah yang disebut sebagai budaya masyarakat. Tak mungkin lepas dari seorang pengarang, maka karya sastra pun ikut menjadi pemgembag budaya masyarakat. Cara-cara yang dilakukan pengarang untuk melestarikan budaya ialah dengan menggoreskan gambaran budaya itu ppada karya sastra yang sasarannya aadalah pembaca secara umum. Maka dari itu tak sedikit karya sastra yang mengusung kedaerahan.
Rahmanto (1998:16—24) mengemukakan bahwa pembelajaran sastra setidaknya membantu siswa dalam empat aspek, yakni membantu meningkatkan keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, dan menunjang pembentukan watak atau karakter, sebab karya sastra memiliki fungsi sebagai media etika (akhlak/moral), estetika (kepekaan terhadap seni dan keindahan, dan didaktika (pendidikan).
Menimbang dari beberapa tujuan karya sastra, dikeahuui bahwa salah satunya adalah meningkatkan pengetahuan budaya. Untuk itu penulis mengangkat judul “Kisah Cinta Asri dan Asnah Berbalut Adat Minang dalam Novel Salah Pilih Karya Nur Sutan Iskandar”.

KISAH CINTA ASRI DAN ASNAH
Asnah adalah putri angkat keluarga Asnah. Namun, ia tak lagi dianggap sebagai anak angkat oleh keluarga itu. Hal yang tak seharunya terjadi itu akhirnya terjadi. Asnah mencintai kakak angkatnya, namun tak seorang pun mengetahui hal itu.
Ibu Asri menginginkan agar Asri segera menikah.
“Di daerah ini ada empat-lima anak gadis yang belum berunangan,” katanya pula, sambil menyebut nama beberapa gadis remaja, keturunan orang baik-baik. “Ibu bapaknya sudah datang kepadaku meminta engkau akan jadi menantunya. Akan tetapi belum seorang jua kuterima, sebab aku insaf …. Sekarang boleh jadi kau pilih sendiri, salah seorang! Lebih baik begitu.”
Asri meminta pendapat kepada adik angkatnya mengenai permintaan orang tuanya itu. Terang hal tersebut membuat lara hati Asnah.
“Sungguh, aku mesti lekas memilih seorang perempuan. Ibu berkehendak begitu, dan akhirnya kehendak beliau mesti berlaku jua.”
“Sudah adakah tempat hati kakanda?” tanya Asnah pula dengan tenang. Akan tetapi sebentar itu juga hatinya berdebar-debar dengan kerasnya.
”Belum, tapi engkau tantu dapat menolong mencarikan daku seoranng perempuan, yanng berkenan kepadamu. Kata ibu, ada empat orang datang ….”
“Mengapa dipersangkutkan dengan saya?” tanya anak gadis itu serta tersenyum sedih. “Tentu saja yang berkenan kepada orang yang akan punya! Mesti begitu menurut istikah kakanda sendiri, bukan?
Pernikahan Asri dengan wanita yang ia pilih pun terlaksana, tinggal Asnah meratapi nasib cintanya seorang diri. Namun kehidupan rumah tangganya ternyata tak bisa baik. Dan di tengah prahara rumah tangganya Asri dapat menemukan bahwa sesungguhnya Asnah tengah mencintainya lebih dari seorang adik kepada kakaknya, melainkan sebagi pasangan kekasih. Hal itu bermula ketika ibu Asri berwasiat sebagai berikut.
“Tahukah engkau,—Anakku,—kalau kupikirkan baik-baik—sesungguh-nya engkau baik sekali kawin dengan Asnah. Oleh karena kita kedua terlalu banyak mempertimbangkan peri keadaan, perihal adat istiadat yang lazim sampai sekarang ini, adat bersuku-suku, lupalah kita … wahai, sifat yang terpenting tidak teringat oleh kita, yaitu budi pekerti. Sedianya Asnah layak sekali bagimu. —Ah, alangkah bodohnya kita ini …” (D)
Ketika keduanya tengah saling mencinta dan Asri pun istrinya tengah meninggal dunia, maka saatnya adat yang menghadang cinta keduanya.
“Akan hal itu aku maklum sudah, Asri,” kata Ibu Mariah serta berpikir-pikir. “Semnjak awalaku sudah berniat jua hendak mengawinkan engkau dengan Asnah. Akan tetapi tak usah kita sesali almarhumah ibumu, kakakku … tiap-tiap manusia bersifat khilaf, bukan? Hanya sangkaku, amat susah akan melangsungkan kerja itu.”
“Ya, Ibu, tentu maksud ibu: susah menurut adat, bukan? Benar, dalam beberapa bulan ini perkara itu sudah aku pikirkan dan kubicarakan dengan beberapa penghulu dalam negeri Sungaibatang. Mereka itu berpendapat bahwa aku tidak boleh kawin dengan Asnah, pertama-tama,—kecuali karena masalah sesuku itu—sebab kami sudah dianggap bersaudara sejak kecil. Kami setepian tempat mandi, kami sepenjemuran, sepintu gapura—kata adat pula. Hanya bekas mentuaku dan seorang lagi penghulu dari suku lain—Cuma kedua beliau itulah yang mengerti akan hasrat haiku. Beliau-beliau itu menerangkan bahwasanya masih ada jalan untuk melampaui larangan adat itu, masih ada syarat untuk melangsungkan perkawinan orang sesuku itu, yakni lebih dahulu ‘buatan diungkai dan buhul dibuka’akan tetapi, untuk mengungkai buatan dan membuka buhul itu aku harus mengisi adat: memotong kerbau seekor, mengadakan beras seratus ganthang, dan menjamu segala penghulu dalam negeri Sungaibatang makan dan minum. Jika tidak dilakukan sedemikian dan aku kawin juga dengan Asnah, kami mesti di keluarkan dari adat—dan tak diakui sebagai orang Minangkabau lagi.
Asri dan Asnah pun meninggalkan adat Minang yang melarang pernikahan keduanya.

SIMPULAN

Kisah cinta yang cukup apik. Cinta yang pada akhirnya bersatu seperti yang sebenarnya selalu diinginkan pembaca. Meskipun kisah itu sedikit terjal oleh halangan-halangan yang tak terencana. Terlebih lagi ketika adatlah yang mencegat cinta keduanya, maka mereka memilih untuk berpindah dari adat yang terlalu mengikat. Namun pada akhirnya mereka tetap kembali ke kampung halaman dengan terhormat akibat prestasi yang dimiliki Asri dan Asnah. Kisah cinta novel ini begitu manis dan penuh lika-liku untuk dpat menemui suatu jalan lurus yang indah.

Daftar Rujukan

Iskandar, Nur Sutan. 1928. Salah Pilih. Jakarta: Balai Pustaka.
Tanpa nama. 2012. Pengertian Apresiasi Sastra dan Manfaatnya, (Online) (www.anneahira.com), diakses pada 17 Desember 2012.

4 Komentar (+add yours?)

  1. Anonim
    Feb 04, 2014 @ 12:46:01

    ora apik

    Balas

  2. Anonim
    Jan 06, 2015 @ 09:00:33

    kurang menawan dan

    Balas

  3. Anonim
    Jan 06, 2015 @ 09:02:12

    bagus kok! good job bangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeettttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt

    Balas

Kritik dan Saran yang membangun ^_^!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: