SIFAT “NRIMAN” MILATI DALAM NOVEL ZALZALAH KARYA MASHDAR ZAENAL

SIFAT NRIMAN MILATI DALAM NOVEL ZALZALAH
KARYA MASHDAR ZAENAL
Oleh Siti Fatichatus Sarifah
Jurusan Sastra Indonesia-UM

A. PENGANTAR
1. Latar Belakang
Prosa fiksi merupakan representasi pengarang menjadi sebuah tulisan yang dapat dinikmati pembaca. Fungsi utama prosa fiksi ialah sebagai alat komunikasi pengarang dengan pembaca. Proses penciptaan karya sastra oleh pengarang selalu berkaitan dengan gaya berekspresi pengarang. Pengekspresian ini salah satunya dipengaruhi oleh kejiwaan pengarang. Aspek kejiwaan yang dihadirkan pengarang dalam karyanya ini kemudian disebut psikologi satra.
Menurut Wellek dan Warren (1962: 81) dalam analis Oeniwahyunie, membedakan analisis psikologis menjadi dua macam yaitu studi psikologi yang semata-mata berkaitan dengan pengarang. Sedangkan studi yang kedua berhubungan dengan inspirasi, ilham, dan kekuatan-kekuatan supranatural lainnya. Pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang kedua, yaitu pembicaraan dalam kaitannya dengan unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung didalam karya sastra. Pada umumnya aspek-aspek kemanusiaan yang merupakan objek utama didalam psikologi sastra, sebab semata-mata dalam diri manusia itulah, sebagai tokoh-tokoh , aspek kejiwaan dicangkokkan dan diinvestasikan.
Menurut Endraswara (2008:16) dalam Minderop (2011:59), daya tarik psikologi satra ialah pada masalah manusia yang melukiskan potret jiwa. Tidak hanya jiwa sendiri yang muncul dalam sastra, tetapi juga bisa mewakili jiwa orang lain. setiap pengarang kerap menambahkan pengalaman sendiri dalam karyanya dan pengalaman pengalaman itu sering pula dialami oleh orang lain.

SIKAP NRIMAN MILATI
Milati adalah seorang yatim piatu yang ditipkan di sebiuah pondok pesantren untuk menuntut ilmu agama. Ia sangat penurut dan nriman sehingga siapa pun yang mengenalnya akan menyukainya. Begitu pula dengan bu nyai yang sangat menyayanginya dan mempercayakan kebutuhan pondok padanya.
“Itu lho, minyak gorengnya habis. Tolong kamu ambilkan di waruungnya Pak Hadi. Sudah ada catatan kok, kamu tinggal ambi saja.”
“Injih, Bu. Ambil berapa liter?” (D)
“Yang sudah bungkusan satu kilo saja, ambil dua. Oh iya, sama sekalian tepung terigunya, sekilo saja.” (D)
Dialog tersebut menggambarkan seorang Milati yang tak banyak bertingkah jika diperintah.
Pada bagian tengah novel ini digambarkan bahwa Milati mencintai putra kiyai dan bu nyai, namun karena berbagai hal ia menerima nasibnya yang tak mungkin bersatu dengan lelaki yang dicintainya itu: Misas.
Pucuk dicinta ulam tiba. Dalam ombang-ambing penasaran Milati menerima sepucuk surat, dan itu dari Misas. Seperti mimpi. Hal itu adalah hal yang paling dinantinya selama bulan-bulan terakhir ini. (N)
Milati tak langsung membalas surat itu. Ketika Milati ulang tahun yang ke-20, Misas memberinya kado sebuah HP dan dengan alat itulah Milati menjawab cinta Misas.
Asw. Mas Misas, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih atas segala kebaikan antum juga Ummi. Jika Mas Misas berharap saya senang dengan pemberian Mas Misas, maka keadaan saya jauh lebih baik daripada sekadar senang. Saya juga mau minta maaf karena tidak membalas surat dari Mas Misas. Tapi jangan khawatir karena Mas Misas telah mendapatkan apa yang Masa Misas harapkan. Wass. (M)
Cinta mereka diuji, Misas dijodohkan dengan anak sahabat bapaknya. Misas berusaha mempertahankan cintanya, namun Milati justru pasrah akan musibah yang menimpanya itu. Milati melakukan itu karena ia tak mau menyakiti banyak orang, tidak mau membuat bu nyai dan pak yai malu jika harus membatalkan rencana pernikahan Misas dengan Hurin. Baginya, cukup ia saja yang menderita.
“Mil, sebelumnya maafkan ibu. Kalau secara tidak sadar kami sekeluarga telah mendzalimi hati kamu.”
“Maksud Bu Nyai?” Milati mengerutkan alis
“Mil, Misas sudah menceritakan semua. Tentang kalian.”
Milati mulai merasa tegangdi dadanya. Benarlah praduganya.
“Mil…” Bu Nyai meneruskan ucapannya, “Ibu minta kamu jujur. Apa benar kalian berdua sudah menjalin hubungan dan saling mencintai?”
Milati bungkam. Pertanyaan itu baginya umpama bongkahan salju yang menghimpit tubuhnaya, membekuakn tuturnya.
Milati tak mau melihat kedua ayah ibu asuhnya itu didera aib yang akan tertinggal di mata Kiiyai Pare…Tidakkah seseorang yang berkorban itu lebih mulia dibandingkan dengan orang yang mengorbankan orang lain?
“di hati saya cuma ada Syaqib. Dia adalah teman terbaik sekaligus kekasih saya, Bu. Mana mungkin saya menyakiti dia.” Ucapnya dengan hati bacin.
Misas pun menikah dengan pilihan orang tuanya. Suatu ketika Hurin hamil dan keadaannya yang tuna netra menuntut untuk adanya seorang pembantu. Maka, Milatilah yang menjdi rewang dalam rumah tangga mantan kekasihnya itu. Satu atap dua cinta.
Lebih menyedihkan lagi. Di balik dinding itu seorang gadis tengah meringkuk memeluk dengkul menikmati malam pertamanya tinggal satu atap dengan orang yang dicintainya yang cuma bisa dia pandang.air matanya berurai tak karuan. Isaknya lirih. Ia tak mau mengganggu suami istri yang sedang beristirahat menikmati malam di kamar sebelah. (N)
Narasi tersebut menggambarkan jiwa Milati yang begiitu mulia mau mengabdikan diri untuk orang yang dicinntainya sekali pun menjadi seorang pembantu. Namun demikian ia tidak ingin menggangu kehidupan rumah tangga mantan kekasihnya itu. Ia hanya ingin membantu dan dengan permintaan bu nyai juga yang harus ia penuhi.
Pada akhir cerita, Milati melakukan pengorbanan yang lebih besar dari semua yang telah digambarkan di muka. Milati salah seorang yang menjadi koban bencana alam Jogjakarta, dan ketika pasangan suami istri yang lekat dengannya itu mendatanginya di lokasi peristiwa, ia berpesan untuk memberikan cahaya baru untuk Hurin, istri kekasihnya.
“Saya mohon, kalian menyimak kata-kata saya ini!”
“Baiklah Milati kami akan menyimaknya. Katakanlah, Milati… katakanlah…!” Misas menekuni kembali mata sayu itu.
“Mas dan Mbak… sebelum saya benar-benar pergi, saya ingin menyampaikan beberapa wasiat.” Misas menggenggam tangan itrinya yang menggenggam erat tangan Milati. Milati melanjutkan kata-katanya dengan perlahan. “Yang pertama, tolonglah pindahkan seluruh sisa uang saya pada kas panti asuhan dan pesantren. Dan yang kedua, tolong jagakan nenek saya bila saya nanti tak lagi bisa menjaganya. Ketiga, jangan pernah Mas Misas menyia-nyiakan Mbak Hurin, cintai dia sebagaimana Mas mencintai saya sepanjang ini.”
Misas semakin menangis, begitu pula Hurin. Milati menyambung lagi kata-katanya, “Dan yang terakhir, bilamana Tuhan benar-benar memanggil saya, dan tubuh saya sudah tak berarti, biarlah sesuatu yang ada dalam diri saya ini meninggalkan manfaat. Dengan bersih hati… kedua penglihatan saya ini akan saya relakan untuk seseorang yang memang pantas mendapatnya, untuk Mbak Hurin.”
Milati memberikan matanya untuk seorang wanita yang seharusnya menjadi rivalnya. Namu, Milati memang tak pernah menganggap Hurin sebagai rival mealinkan sebagai saudara perempuan.

SIMPULAN
Novel tersebut benar-benar membuat pembaca menangis bombay karena mengikuti perjalanan hidup Milati yang begitu sabar, tidak banyak menuntut, atau dalam istilah Jawa disebut dengan sikap nriman. Ia tak banyak protes walaupun kadang yang terjadi sangat menyakitkan bagi dirinya. Tapi di situlah kekuatan novel tersebut yang menggiring pembaca untuk bersendu bersama jalan pikiran Milati yang demikian sederhana. Luar biasa sosok Milati digambarkan dalam novel tersebut, dialah cermin wanita anggun yang soleha.

Kritik dan Saran yang membangun ^_^!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: