Tradisi Dongeng sebagai Pengantar Tidur Anak

Tradisi Dongeng sebagai Pengantar Tidur Anak
Dongeng selalu kental atau lekat dengan sosok anak-anak karena dongeng selalu diceritakan dengan bahasa yang sederhana dan alurnya selalu maju sehingga mudah ditebak. Tidak jarang juga, bahkan kebanyakan orang tua modern menjadikan dongeng sebagai pengantar tidur anak-anak mereka. Hal tersebut sebagai salah satu wujud rasa kasih sayang orang tgua terhadap anaknya. Atau sekadar agar anak mereka dapat bermimpi indah kala tidur. Benarkah semua itu? Ya, hal itu memang benar.
Dongeng sebagai salah satu wujud kasih sayang orang tua pada anaknya. Dengan orang tua membacakan dongeng untuk anaknya sebelum tidur, maka dengan kata lain sang orang tua telah menyisihkan sekian menit waktunya untuk sang buah hati setelah sibuk beraktivitas seharian guna mencari uang. Mereka bisa menyanding anaknya sebelum terlelap, menyanyikan lagu Nina Bobok, dan membuat anak merasa lebih diperhartikan. Dan hal itulah yang disebut sebagai salah satu wujud rasa sayang orang tua pada anaknya.
Pembacaan dongeng yang bertujuan agar sang buah hati dapat bermimpi indah saat tidur juga bisa dikatakan benar karena cerita-cerita yang disajikan oleh dongeng ialah cerita fiktif yang kebanyakan berakhir bahagia. Atau cerita yang terjadi di negeri khayalan dan kerajaan yang indah-indah pula. Misalnya: Cinderella, Bawang Merah Bawang Putih, 1001 Malam,dan Abunawas. Cerita-cerita itu selalu berakhir dengan bahagia sehingga ketika disajikan sebelum tidur, anak-anak hanya akan memikirkan hal-hal yang indah itu sampai terbawa ke alam bawah sadar mereka, yakni dunia mimpi. Selain itu, dalam dongeng juga selalu terdapat amanat yang baik dan dapat diteladani. Dan akan lebih baik jika disampaikan sebelum tidur karena ketika amanat itu masuk ke alam bawah sadar si anak, maka anak dapat meneladani amanat itu untuk kehidupannya tanpa diperintah oleh siapapun, dengan kata lain, ia akan terbiasa dengan hal-hal baik seperti dalam dongeng. Misalnya: ‘Orang yang baik akan selalu ada yang menolong’ amanat dari dongeng Ande-Ande Lumut, ‘Jangan menjadi orang yang licik’ amanat dari dongeng Kancil dan Tikus, dan ‘Jangan menjadi orang yang serakah’ amanat dari dongeng Ali Baba dan 40 Penyamun.
Hal-hal yang tersebut di atas merupakan sisi positif dari membacakan dongeng untuk anak sebelum tidur. Jika ada sisi positif pasti ada sisi negatif, yaitu jika orang tua membacakan dongeng sebelum tidur dengan tujuan agar anak mereka dapat segera tertidur, maka hal tersebut dapat menumbuhkan kebiasaan dan asumsi buruk kepada anak. Membacakan dongeng untuk anak dengan tujuan agar anak segera tidur dapat menimbulkan asumsi pada anak bahwa dengan kita membaca ataupun mendengarkan, kita ‘harus’ mengantuk. Dan asumsi tersebut dibawa oleh anak sampai ia dewasa, sehingga banyak orang yang membaca merasa cepat mengantuk, atau saat mendengarkan pembicaraan orang lain, misalnya mendengarkan guru menerangkan, mendengarkan seminar, dan lain-lain, maka kebanyakan orang lebih cepat mengantuk. Hal tersebut merembet pada minat baca seseorang yang semakin menurun karena mereka bosan dan merasa ‘pasti’ mengantuk saat melakukan kegiatan membaca.Akhirnya, kebanyakan orang menghindari kegiatan membaca tersebut dan melupakan manfaat penting dari membaca.

Kritik dan Saran yang membangun ^_^!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: