KEHIDUPAN SOSIAL ANISA DALAM NOVEL PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN KARYA ABIDAH EL KHALIEQY

KEHIDUPAN SOSIAL ANISA DALAM NOVEL
PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN KARYA ABIDAH EL KHALIEQY

Oleh Siti Fatichatus Sarifah
Jurusan Sastra Indonesia-UM

Dewasa ini karya sastra semakin berkembang dan bebas bermunculan mengisi keanekaragaman di Indonesia. Karya sastra merupakan pencerminan masyarakat yang berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Hal itu berarti bahwa sastra tidak akan pernah lepas dari hubungan sosial masyarakat atau hubungan manusia dengan manusia yang menggunakan media bahasa. Apresiasi terhadap karya sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan itu disebut sosiologi sastra. Tugas sosiologi sastra ialah untuk menghubungkan imajinasi pengarang dengan keadaan sosial masyarakat melalui karya sastra. Dan unsur sosial suatu karya sastra selalu berhubungan dengan masalah kelompok atau kelembagaan.
Pendekatan sosiologi terhadap sastra didasarkan pada pernyataan bahwa ada kaitan antara sastra dengan masyarakat. Menurut Semi (1984:52) dalam Faruk (2010:34) sosiologi adalah suatu telaah objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat dan tentang sosial serta proses sosial. Sedangkan sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Bahasa itu merupakan ciptaan sosial yang menampilkan gambaran kehidupan. Hakikat sosiologi adalah objektivitas, sedangkan hakikat karya sastra adalah subjektivitas dan kreativitas, sesuai dengan pandangan masing-masing pengarang.
Dari pendapat ahli teesebut dapat ditangkap bahwa karya sastra pun tidak dapat terlepas dari kehidupan sosial atau kelembagaan, begitu pula hadirnya karya sastra dapat mempengaruhi kehidupan sosial seorang pembaca. Oleh karena itu, dalam tulisan ini diapresiasi kehidupan sosial tokoh utama, yaitu Anisa.

KEHIDUPAN SOSIAL ANISA DALAM NOVEL PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN
Tokoh utama dalam novel Perempuan Berkalung Sorban ialah Anisa. Anisa selalu muncul dalam setiap tahapan peristiwa pada novel tersebut. Sesuai kodratnya sebagai manusia, yakni manusia tidak dapat hidup sendiri atau akrab dikenal dengan sebutan makhluk sosial, maka Anisa pun demikian. Dalam cerita, Anisa digambarkan hidup bermasyarakat dengan orang-orang di sekitarnya. Ia bersosialisasi dalam berbagai bidang, baik pendidikan, rumah tangga, maupun organisasi sosialnya yang memperjuangkan kesetaraan gender kaum hawa. Ketiganya akan diulas lebih lanjut sebagai berikut.

1) Kehidupan sosial tokoh di bidang pendidikan
Anisa adalah seorang putri kiyai yang memiliki sebuah pondok. Anisa hanya mampu menamatkan sekolah dasar sebelum dipaksa menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya. Perjuangan Anisa tak putus di situ, dalam masa penderitaannya berumah tangga, ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke tsanawiyah dan aliyah.
Maka sekalipun sudah hampir dua minggu aku absen dari panggilan guru, kupaksakan diri ini untuk kembali ke sekolah tsanawiyah. Dengan penuh keyakinan bahwa segalanya akan berubah ketika lautan ilmu itu berkumpul di sini, dalam otakku. Atas nama kecintaanku pada Lek Khudori, atas nama ilmu dan atas nama perubahan, aku bergegas masuk ke dalam kelas. Kulahap semua ilmu yang diajarkan para guru dengan sepenuh hati dan kemampuan berpikirku. Tiga tahun berlalu dan kini aku telah lulus dengan menduduki ranking kedua setingkat kabupaten. (N)
Meski telah bersuami, aku memang belum hamil. Dan jika aku hamil, tentu aku tak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat aliyah. (N)
Tak hanya berhenti sampai pendidikan di tingkat aliyah, rupanya cita-cita Anisa adalah menjadi seorang sarjana. Mimpi itu pun ia kejar setelah bercerai dengan sang suami.
“Uruslah pendaftaran dan segera kuliah. Dengan kuliah, kau akan memiliki banyak kesibukan,” kata Lek Khudori. (D)
“Kupikir, itulah satu-satunya yang harus segera kulakukan, Lek” (D)
Atas dukungan ibu dan Wildan juga atas pertimbangan bahwa kondisiku kurang baik untuk tinggal terlalu lama tanpa aktivitas setelah menjanda, aku putuskan niatku untuk segera berangkat ke Yogyakarta, melanjutkan sekolah di perguruan tinggi . sekali pun Rizal dan wildan juga di Yogya, aku tidak mau tinggal bersama mereka. Aku ingin merasakan kemerdekaan hidup yang mengobsesi sekian lama dalam benakku. Toh aku sudah dewasa kini. (N)
Anisa begitu gigih dalam meraih cita-cita pendidikannya, terlebih orang yang ia cintai selalu mendukung untuk itu. Terlihat dari kutipan-kutipan di atas bahwa Anisa tetap melanjutkan sekolah meskipun sudah menikah. Selanjutnya, setelah ia menjanda ia melanjutkan sekolah di perguruan tinggi atas dorongan Lek Khudori dan dengan dukungan orang tuanya. Anisa membuktikan kepada pembaca bahwa perempuann juga memiliki kesempatan yang setara dengan laki-laki dalam bidang pendidikan. Perempuan juga boleh melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

2) Kehidupan sosial tokoh dalam kehidupan berumah tangga
Orang tua Anisa telah menjodohkan Anisa dengan seorang putra kiyai sahabatnya sehingga keduanya yakin Anisa menikah dengan orang yang tepat: Syamsudin. Namun, kenyataan yang dialami Anisa rupanya jauh dari harapan orang tuanya. Rumah tangganya jauh dari kata harmonis. Anisa sering mendapat kekerasan dari Syamsudin, namun ia tak tinggal diam, ia tak jarang melakukan pembelaan atas dirinya.
“Kau memperkosaku, Samsudin! Kau telah memperkosaku!”
“Memperkosa? Heh heh heh …,” ia terbahak-bahak kecil karena merasa puas mengerjaiku. “Mana ada suami memperkosa isterinya sendiri. Kau ini aneh, Nisa. Aku belum pernah melihat perempuan sebodoh kau ini. Tetapi sekalipun bodoh, kau begitu molek. Tubuhmu begitu luar biasa, heh heh heh…”
“Hentikan ocehanmu! Perilakumu seperti bukan muslim!”
Anisa membela dirinya dengan kata-kata perlawanan terhadap Samsudin. Kata-kata untuk menyadarkan Samsudin bahwa perbuatannya terhadap istri tidak terpuji. Meskipun kata-kata itu kadang justru membuat dirinya makin dianiaya Samsudin. Selain itu, Anisa juga membela dirinya dengan perbuatan sebagai berikut.
Ia menampar mukaku bertubi-tubi hingga pipi dan pundakku lebam kebiru-biruan. Untuk kali pertamaku, kucakar wajahnya dan ia membanting badanku ke lantai. (N)
Dari narasi tersebut dapat diketahui bahwa Anisa membela dirinya dengan cara mencakar wajah Samsudin yang telah menamparnya. Begitulah pembelaan Anisa, namun Samsudin tetap tak mau kalah. Samsudin membanting Anisa ke lantai dari atas ranjang mereka. Itulah potret kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh Samsudin kepada Anisa.
Anisa akhirnya bercerai dengan Samsuduin. Lantas ketika ia tengah menempuh pendidikannya di perguruan tinggi, ia pun menikah dengan orang yang selama ini ia cintai: Lek Khudori. Kehidupan rumah tangga Anisa dengan lek-nya sangat berbeda ketika ia dengan Samsudin. Dengan Khudori, ia benar-benar merasakan indahnya pernikahan, ia sangat bahagia.
Aku semakin kepayang. Malang melintang di taman keindahan. Darahku seolah mengalir ke satu titik, menyerbu dan menggempurnya untuk sesuatu yang membuatku penasaran.
Di antara rasa dan keindahan yang berlipat ganda itu, aku mendengaar mas Khudori melafalkan sebuah doa. Bismillahi Allahumma janibnas syaithan.
“Bagaimana, sayang…apa yang kau rasakan?” (D)
“Terus saja, Mas…” (D)
Dari narasi dan dialog di atas, diterangkan bahwa Anisa tidak merasa terpaksa melakukan hubungan suami istri, karena Khudori bersikap lembut dan penuh kasih sayang, tidak seperti bersama Samsudin (ia merasa diperkosa).

3) Kehidupan sosial tokoh dalam memperjuangkan kesetaraan gender
Merasa orang-orang tidak adil atas dirinya sebagai perempuan dan menghadapi masalah pelik dalam rumah tangganya, membuat Anisa tak ingin sesamanya merasakan hal yang ia rasakan. Untuk itu, semenjak ia duduk di bangku perkuliahan ia mengikuti sebuah organisasi ekstra kampus.
Dengan kuliah, aku menaiki jenjang pendidikan setapak demi setapak dengan ilmu yang merasuki otak. Membentuk pola pikir dan kepribadianku. Dengan organisasi aku mempelajari cara berdebat, berpidato dan manajemen kata untuk menguasai massa, juga lobby dengan banyak orang yang lebih lama kuliahnya. (N)
Trauma Samsudin begitu parah mengendap dalam kesadaranku, hingga beberapa teman mengira aku alergi terhadap laki-laki. Seperti Nina yang memperolokku sebagai perempuan salju. Terlebih jika aku bicara di forum mengenai laki-laki, lidahku menjadi pedas dan kata-kata yang ke luar akan semakin pedas lagi dari yang dapat dikira. Jika terjadi debat kusir dengan seorang laki-laki di luar forum, lidahku bisa melingkar-lingkar dan seluruh anggota badanku, dari gerakan tangan atau tatapan mata akan ikut memainkan peran untuk membuat lawan bicara menjadi kelenger. Klepek-klepek seperti ikan di blumbang keruh. (N)
Dari narasi di atas dapat diketahui bahwa traumanya dengan Samsudin membuatnya menjadi sangat galak terhadap laki-laki.
“Memangnya ada apa dengan Basuni, Nin, bukankah ia kasmaran betul dengan kamu?” (D)
“Itu urusan dia. Tetapi nggak zamannya laki-laki menguasai perempuan. Belum apa-apa sudah melarang ini melarang itu, perintah sana, perintah sini, seenaknya. Memangnya aku ini kacung?” Kata Nina sebal. (D)
Dialog antara Anisa dan rekan organisasinya itu mengkritisi seorang laki-laki yang suka mengatur dan itu sangat tidak disukai kaum hawa karena hal itu dianggap suatu ketidakadilan.

SIMPULAN
Kehidupan sosial Anisa begitu bagus, luar biasa, utamanya dalam aksi penyetaraan gender. Ia menginginkan derajat seorang perempuan itu sama berartinya dengan seoranga laki-laki. Baginya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki peran yang sama dalam hidup ini. Keduanya berhak atas pendidikan yang sama, suara yang sama, kesempatan yang sama, dan sebagainya. Novel ini sangat apik dan dapat menginspirsi kaum hawa untuk bersemangat meneruskan perjuangan tokoh yang lekat dengan telinga kita, yakni RA Kartini. Beliau adalah tokoh emansipasi wanita. Perjuangan emansipasi beliau tercermin dalam novel ini dan menyenangkan untuk dibaca.

DAFTAR RUJUKAN

Faruk. 2010. Pengantar Sosiologi, dari Strukturalisme Genetik sampai Post modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Khalieqy, Abidah El. 2009. Permpuan Berkalung Sorban. Yogyakarta: Arti Bumi Intaran.

Kritik dan Saran yang membangun ^_^!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: