Pendidikan Pramuka untuk Sekolah Dasar, Mencetak Generasi Berkarakter

Pendidikan Pramuka untuk Sekolah Dasar,
Mencetak Generasi Berkarakter

Oleh Siti Fatichatus Sarifah

Jalur pendidikan di Indonesia terbagi menjadi pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal. Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Berbeda dengan pendidikan formal, pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Sementara itu, pendidikan informal adalah pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Salah satu contoh pendidikan nonformal ialah pendidikan kepramukaan. Menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, Pendidikan Kepramukaan adalah proses pembentukan kepribadian, kecakapan hidup, dan akhlak mulia pramuka melalui penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepramukaan. Pendidikan kepramukaan tersebut biasanya dijadikan sebuah ekstra kurikuler di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga menengah, bahkan di perguruan tinggi pun ada kegiatan kepramukaan yang diposisikan sebagai unit kegiatan mahasiswa (UKM). Gerakan pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup.
Sebagai kategori pendidikan nonformal, pendidikan kepramukaan memiliki peran yang cukup besar dalam pembentukan karakter bangsa sehingga tepat bila kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah Sunan Kalijogo, Dra. Hj. Sunartin mengatakan, “Untuk ekskul pramuka, kami mewajibkan semua anak didik ikut.” (Koran Pendidikan, edisi 438 2012:7). Kegiatan kepramukaan mengandung banyak pengetahuan yang mencakup tentang kecakapan hidup. Misalnya, dalam kegiatan perkemahan maka seorang pramuka dituntut untuk dapat hidup mandiri tanpa kehadiran orang tuanya, namun di sisi lain mereka dituntut pula untuk hidup berkelompok, bekerjasama dengan sebayanya. Selain itu, pramuka juga dilatih untuk takwa kepada Tuhan, mencintai alam sekitar, disiplin, hidup hemat, jujur, dan bertanggung jawab. Hal tersebut sesuai dengan kode kehormatan pramuka yang berupa Satya Pramuka dan Darma Pramuka. Kode kehormatan itu merupakan janji dan komitmen diri serta ketentuan moral pramuka dalam pendidikan kepramukaan. Bunyi Darma Pramuka untuk golongan penggalang hingga dewasa adalah sebagai berikut. (a) Takwa kepada Tuhan Yang Esa, (b) cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, (c) patriot yang sopan dan kesatria, (d) patuh dan suka bermusyawarah, (e) rela menolong dan tabah, (f) rajin, terampil, dan gembira, (g) hemat, cermat, dan bersahaja, (h) disiplin, berani, dan setia, (i) bertanggung jawab dan dapat dipercaya, serta (j) suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Menoleh dari banyaknya pelajaran hidup dalam pendidikan kepramukaan sesuai dengan kode kehormatan tersebut, maka pendidikan kepramukaan baik dimulai sejak dini. Pendidikan kepramukaan dapat dimulai sejak seorang anak berusia tujuh tahun, yakni anak tersebut termasuk golongan siaga. Golongan siaga (kelas I—III SD) mengajarkan kepada seorang anak utamanya agar menghormati kedua orang tuanya. Hal tersebut sesuai kode kehormatan pramuka siaga, yakni Dwisatya dan Dwidarma. Bunyi Dwidarma adalah sebagai berikut: (1) siaga itu patuh pada ayah dan ibundanya, dan (2) siaga itu berani dan tidak putus asa. Golongan setelah pramuka siaga adalah pramuka penggalang, yakni usia 10—15 tahun. Pada usia tersebut seorang anak tengah menempuh pendidikan formal sekolah dasar mulai kelas IV hingga lulus sekolah menengah pertama.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa siswa sekolah dasar diwajibkan mengikuti kegiatan kepramukaan, bukankah kegiatan kepramukaan itu melelahkan. Nah, itulah asumsi yang salah. Pendidikan kepramukaan, utamanya untuk golongan siaga dan penggalang (untuk siswa sekolah dasar) ialah wujud pendidikan yang memnanamkan nilai-nilai pekerti baik yang dikemas dalam bentuk permainan-permainan baik permainan individu maupun kelompok. Kegiatan tersebut tepat dengan kondisi kejiwaan siswa sekolah dasar yang masih senang bermain dengan sebayanya, dan justru dengan mengikuti kegiatan kepramukaan, maka permainan-permainan yang mereka terima adalah permainan yang mendidik pekerti mereka. Mereka pun juga dengan senang hati dan tanpa sadar telah mendapat nilai-nilai positif yang sengaja ditanamkan dalam diri mereka.
Jadi, tepat jika pendidikan kepramukaan diwajibkan di sekolah dasar. Hal itu karena usia siswa sekolah dasar adalah usia yang masih mudah mengingat berbagai pengalaman. Usia siswa sekolah dasar mudah untuk disisipi pendidikan yang mengandung nilai-nilai positif, terlebih jika dikemas dalam bentuk permainan. Selain itu, usia tersebut merupakan waktu yang tepat untuk membentuk karakter seorang anak.

Daftar Rujukan

Hamzah, Amir. —. Ekskul MI Sunan Kalijogo Karang Besuki: Semua Wajib ikut Pramuka. Koran Pendidikan, hlm. 7.
Undang-Undang RI No. 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (Online), (http://www.depdagri.go.id/media/documents/2011/03/30/u/u/uu_no.12-2010.doc), diakses pada tanggal 14 Desember 2012.
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Inherent Dikti: Indonesia Higher Education Network. (Online), (www.inherent-dikti.net/files/sisdiknas.pdf -), diakses pada 14 Desember 2012

Kritik dan Saran yang membangun ^_^!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: