PENGGAMBARAN PENOKOHAN KARMAN DALAM NOVEL KUBAH KARYA AHMAD TOHARI

PENGGAMBARAN PENOKOHAN KARMAN
DALAM NOVEL KUBAH KARYA AHMAD TOHARI
Oleh Siti Fatichatus Sarifah
Jurusan Sastra Indonesia-UM

Prosa fiksi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang dihasilkan seorang sastrawan. Meskipun bersifat fiksi, karya sastra dominan berangkat dari kisah nyata, baik yang dialami pengarang, diamati pengarang, maupun dialami orang-orang yang dekat dengan pengarang. Dalam membuat sebuah cerita, tentu pengarang wajib menghadirkan tokoh dan karakter tokoh karena tanpa tokoh sebuah cerita tidak dapat digerakkan. Bagaikan kendaraan tanpa pengemudi maka kendaraan itu tidak akan pernah berjalan.
Tokoh merupakan rekaan pengarang, sehingga untuk dapat mengenal tokoh tersebut pengarang perlu menggambarkan tokoh rekaannya. Hal itu dapat disampaikan dengan mendeskripsikan ciri-ciri fisik, sifat, serta sikap tokoh agar wataknya dapat dikenal oleh pembaca. Menurut Sudjiman (1986:80) dalam Sudjiman (1991:23), yang dimaksud dengan watak ialah kualitas tokoh, kualitas nalar dan jiwanya yang membedakan dengan tokoh lain. Penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh inilah yang disebut penokohan. Sementara menurut Waluyo (1994:165), penokohan merupakan cara pengarang menampilkan tokoh-tokohnya, jenis-jenis tokoh, hubungan tokoh dengan unsur cerita yang lain, watak, tokoh-tokoh, dan bagaimana pengarang menggambarkan watak tokoh-tokoh itu.
Dari dua pendapat di atas terang bahwa penokohan memiliki andil besar dalam menciptakan karya sastra yang hidup. Apa namanya cerita tanpa pelaku dan sifat yang dibawanya. Perbedaan sifat masing-masing pelaku pulalah yang mengantarkan pembaca menikmati cerita yang dipertentangkan oleh sifat-sifat itu. Dalam tulisan ini diapresiasi penggambaran penokohan.

PENGGAMBARAN PENOKOHAN DALAM NOVEL KUBAH
Ada beberapa metode penyajian watak tokoh atau metode penokohan. Metode itu antara lain: (1) tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya, (2) paparan karakter /watak tokoh yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan, (3) menunjukkan perilaku dan pernyataan tokoh dalam dialog cerita, (4) penggambaran pikiran dan perasaan tokoh dan (5) melihat tokoh lain berbicara tentang tokoh tertentu.

Tuturan Pengarang terhadap Karakteristik Pelakunya
Tuturan pengarang terhadap karakter si tokoh utama: Karman.
Karman, meski ukuran tubuhnya tidak kecil, saat itu merasa menjadi rayap yang berjalan di antara barisan lembu. Ia selalu merasa dirinya tak berarti, bahkan tiada. Demikian, pada hari pertama dinyatakan menjadi orang bebas, Karman malah merasa dirinya tak berarti apa-apa, hina-dina (N).
Demikian narasi pembuka yang memperkenalkan sosok Karman yang tinggi, namun mempunyai sifat minder akibat gelar yang disandangnya sebagai mantan tahanan politik selama 12 tahun. Selain itu, usia tokoh juga dipaparkan langsung oleh pengarang melalui narasi berikut.
Dan tak lama kemudian lelaki berusia 42 tahun itu mendapatkan apa yang diinginkannya.

Perburuan dimulai. Halus sekali, tanpa letupan-letupan, bahkan tanpa nada kasar sedikit pun. Karman sungguh terlalu muda untuk menyadari bahwa sedang berlangsung kisah safarri yang ditujikan kepada dirinya.
Narasi tersebut cukup untuk menggambarkan bahwa sebenarnya karman adalah soerang yang polos yang hendak dimangsa orang komunis. Kepolosan Karman membuatnya dengan mudah masuk ke dalam perangkap yang disiapkan tokoh komunis itu. Hal itu didukung dengan narasi dan dialog berikut.
“Kalau begitu saya hanya dapat menyampaikan rasa terima kasih,” jawab Karman akhirnya.
“Cukup, lebih dari cukup. Hanya itu yang perlu kau berikan kepadaku. Tidak berat?”
Karman tersipu dan menggeleng. Matanya bersinar-sinar, hatinya penuh harapan. Dan ia sedikit pun tak merasa, utang moral baru saja ditandatanganinya.
Dan beginilah jadinya ketika Karman telah terhasut oleh orang komunis. Perubahan sikap itu langsung dituliskan oleh Ahmad Tohari.
Hanya setahun sejak perkenalannya dengan kelompok Margo, perubahan besar terjadi pada diri Karman. Ia menjadi sinis. Segala sesuatu apalagi yang menyangkut Haji Bakir selalu ditanggapi dengan prasangka buruk. Karman pun mulai berani berterus terang meninggalkan masjid, meninggalkan peribadatan. Bahkan tentang agama, Karman sudah pandai mengutip kata Margo, bahwa agama adalah candu untuk membius kaum tertindas.
Narasi tengah tersebut membawa ketegangan kepada pembaca dan mebuat pembaca terbawa suasana yang begitu menukik atas perubahan sifat seseorang akibat hasutan kaum komunis. Hal itu dipertegas dengan narasi berikutnya seperti ini.
Namun, puncak perubahan kepribadian Karman terjadi dekat sumur belakang rumah. Siang itu Karman berdiri di belakang rumah. Tangannya memegang sebuah parang. Kelihatannya ia agak ragu-ragu. Alisnya turun-naik beberapa kali. Namun akhirnya ia maju mendekati padasan bambu itu dan langsung membelah nya. Penampungan air wudu itu dibuatnya menjadi serpihan bambu kecil-kecil. Karman hanya menghancurkan tiga ruas bambu yang tampak tidak berarti itu. Tetapi itulah perlambang yang nyata atas pergeseran nilai yang telah melanda dirinya.
Ternyata penjara juga bermanfaat. Setelah merasakan pahitnya hidup di penjara akibat kesalahan yang tak ia rasakan, karman menjadi inssaf dan ia bisa kembali membuka hati nuraninya. Karman dapat merasakan kebaikan hati Haji Bakir dan ketulusannya selama itu sampai kembalinya ia dari penjara kembali. Narasi akhir yang menggambarkan sosok Karman telah kembali pada fitrahnya adalah sebagai berikut.
Karman memberanikan diri meminta bagiannya. Ia menyanggupi membuat kubah yang baru bila tersedia bahan dan perkakasnya. Ketika tinggal dalam perasingan Karman pernah belajar mematri dan mengelas. Keinginan Karman mendapat sambutan.
Tetapi Karman menganggap pekerjaan membuat kubah itu sebagai kesempatan yang istimewa. Se-sen pun ia tak mengharapkan upah. Bahkan dengan menyanggupi pekerjaan itu ia hanya ingin memberi jasa. Bagaimana juga sepulang dari pengasingan ia merasa ada yang hilang dari dirinya. Dan ia ingin mendapat bagian yang hilang itu.

Paparan Karakter /Watak Tokoh yang Diberikan Pengarang Lewat Gambaran Lingkungan
Karena mendapat izin menuai padi untuk diri sendiri, malam itu Karman sulit tidur. Dia baru terlelap hampir tengah malam. Namun ketika ayam jantan mulai berkokok Karman sudah terjaga. Anak-anak yang tidur di serambi masjid menghafal dua suara yang menandakan fajar telah tiba; kicau burung sikatan di atas kolam masjid atau bunyi terompah kayu Haji Bakir.
Narasi tersebut menggambarkan kehidupan anak-anak yang kesehariannya tidur di masjid dan tentunya tak akan terlambat sholat Subuh dan sholat yang lain, begitu juga dengan Karman karena Karman menjadi salah satu anggotanya.

Menunjukkan Perilaku dan Pernyataan Tokoh dalam Dialog Cerita
“Wah, mainan kamu bagus. Buat aku, ya!” kata Rifah kepada Karman suatu hari.
“Oh, jangan,” jawab Karman. Ia pura-pura bertahan.
“Tapi aku ingin mainan kamu itu,” sambung Rifah (D).
Gayanya khas seorang anak yang terbiasadimanja. Karman tahu Rifah akan memberikan apa saja apabila ia diberi baling-baling mainan itu. Itulah yang biasa terjadi (M).
“Kamu pulang dulu. Kamu ambil nasi buat aku. Nanti baling-baling ini buat kamu.” (D)
Dari dialog Karman dengan Rifah, dan monolog tersebut muncul watak Karman yang cerdik kala ia kepepet dan menginginkan sesuatu. Ia bisa berpikir lebih pandai agar dirinya bisa makan nasi sesekali di sela-sela waktu dua tahun dia harus rela hanya memakan singkong sebagai makanan sehari-hari.

Penggambaran Pikiran dan Perasaan Tokoh
Berikut digambarkan pola pikir dan perasaan cinta Karman kepada ibunya. Dia yang masih kecil rela bekerja di tempat Haji Bakir (meskipun pekerjaan di tempat Haji Bakir bukan kerja berat) dan menuai padi untuk keluarganya.
Karman tahu Bu Mantri, ibunya, tak pandai menuai. Jadi, bagaimanapun baiknya panen musim itu, Bu Mantri tidak akan mendapat bawon, yaitu upah menuai padi. Padi yang diterima dari Bu Haji Bakir sebagai upah Karman sudah habis, karena sebagian dijual untuk keperluan lain.
“Tak pantas pada waktu panen seperti ini ibuku tak punya beras. Sebaiknya aku ikut menuai padi agar ibuku sempat merasakan nasi yang empuk.”
Narasi tersebut ditemukan di tengah-tengah novel Kubah itu.

“Sungguh tidak adil!” begitu keluh Karman setiap kali teringat lamarannya yang tidak diterima Haji Bakir.
Begitulah sosok Karman ketika menghadapi cobaan hidup setelah dipengaruhi orang-orang komunis itu. Karman menjadi sosok yang mudah mendendam, utamanya kepada Haji Bakir yang telah menanamkan nilai-nilai agama dan bekerja keras. Ia berburuk sangka kepada Haji Bakir.
“Seandainya aku yang melamar Rifah dahulu dan diterima, baru kemudian datang Abdul Rahman, kurasa lamaranku akan dibatalkan oleh Haji Bakir.”

Melihat Tokoh Lain Berbicara tentang Tokoh Tertentu
Tanpa terasa akhirnya Karman seakan menjadi anggota keluarga Haji Bakir. Ia sering terlihat mengiringkan gerobak yang mengangkat kelapa yang baru dipanen dari kebun Haji Bakir. Petani kaya itu merasa puas, karena kalau menyangkut panen kelapa, Karman selalu teliti (N).
Demikian pendapat Haji Bakir terhadap Karman yang disajikan dalam bentuk narasi oleh pengarang. Hal itu didukung dengan bukti laporan Karman kepada Haji Bakir mengenai hasil panen kelapa seperti berikut.
“Panen kelapa kali ini berjumlah 836 buah. Sejumlah 43 buah rusak dimakan tupai. Dalam perjalanan, anak-anak nakal naik ke atas gerobak dan membawa lari 3 buah. Jadi, sampai ke gudang tinggal 790 buah.”

PENUTUP
Keasyikan membaca novel ini ketika pembaca disuguhi sesosok Karman yang memiliki sifat berubah-ubah sesuai tahapan plot atau disebut tokoh dinamis. Karman yang semula diceritakan sebagai sosok yang baik, berbakti pada keluarga, dan giat bekerja itu tiba-tiba seratus delapan puluh derajat berubah menjadi sosok yang tak mengenal Tuhan dan tak tahu balas budi akibat hasutan dari kader-kader partai komunis hingga pada akhirnya di kembali pada fitrahnya sebagai manusia yang berketuhanan Yang Maha Esa. Perwatakan tersebut membuat kejutan yang luar biasa bagi pembaca, pembaca menjadi terbawa suasana bahkan ikut emosi dan menyayangkan ketika Karman yang betuhan harus terseret oleh sosok-sosok atheis yang menyesatkannya. Semua watak itu disajikan sedemikian rupa sehingga dapat dinikmati pembaca baik dalam narasi, monolog, maupun dialog tokoh.

1 Komentar (+add yours?)

  1. Painem
    Feb 13, 2015 @ 14:00:23

    Tangi Le

    Balas

Kritik dan Saran yang membangun ^_^!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: