Cerita Rakyat Malin Kundang

Malin Kundang
Oleh: Siti Fatichatus Sarifah

Di Sumatera Barat terdapat sebuah patung batu yang berbentuk seperti manusia sedang bersujud. Menurut kepercayaan, batu itu akan mengeluarkan suara-suara memilukan seperti orang yang sedang berteriak minta ampun kepada ibunya jika ombak besar datang menghantamnya. Terkadang teriakannya seperti ini, “Ampun, Bu!”, “Ampun!”, “Ampuni anakmu, Bu!”. Konon, batu itu adalah wujud kutukan seorang ibu kepada anaknya yang durhaka.
Berpuluh-puluh tahun silam sebelum terbentuknya patung batu unik itu, di daerah Sumatera Barat, terkisahkan kehidupan seorang janda bernama Mande Rubayah. Janda itu tinggal dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Malin kundang. Mereka tinggal di sebuah gubug sederhana di pesisir pantai dan diantara keduanya selalu ada cinta kasih. Mande sangat menyayangi Malin, Ia tidak pernah merasa letih harus membanting tulang setiap hari guna menghidupi keluarga kecilnya yang kurang berkecukupan namun penuh cinta. Semua baik-baik saja hingga suatu hari Malin sakit keras dan hampir mati, Mande semakin sayang kepada Malin dan semakin giat bekerja. Ia memanggil tabib kesana kemari, berdoa tanpa henti, dan selalu merawat anaknya dengan penuh kelembutan. Doa Mande terjawab, Malin tertolong dari maut yang mengintainya.
Semakin hari Malin semakin dewasa, ia bermaksud hendak pergi merantau ke luar pulau untuk membantu ibundanya. Ia kasihan melihat ibunya terus-terusan memeras keringat sendirian, terlebih bila ia teringat kala ia terbaring sakit dan hampir mati. Dengan sangat berat hati Mande mengizinkan anaknya pergi. Mande memberi bekal makan yang cukup untuk semingu pada Malin, ia juga memberikan kalung satu-satunya peninggalan sang suami. Tak lupa Mande memberi pesan pada Malin. “Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak”, ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata. Malin mengiyakan pesan ibunya dan segera memasuki kapal yang ia yakini siap mengantarkannya pada kesuksesan. Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin menjauh dengan diiringi lambaian tangn ibunya.
Selama di kapal, Malin banyak belajar ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang lebih berpengalaman darinya. Naasnya, ditengah perjalanan kapal Malin diserang oleh bajak laut, seluruh barang bawaan dirampas dan sebagin besar awak kapal dibunuh. Untungnya saat itu Malin sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh tumpukan kayu sehingga keberadaannya tidak diketahui oleh rombongan perompak itu. Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin berjalan menuju desa terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin ditolong oleh masyarakat desa, dan ia segera menceritakan musibah yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya bekerja, Malin berhasil menjadi seorang
yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih
dari 100 orang. Setelah menjadi kaya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis, putri orang kaya pula.
Di tempat lain, ibu Malin setiap hari rajin ke dermaga mengharapkan kepulangan anaknya. Ia selalu berdoa agar Malin Kundang segera kembali. Ia juga selalu bertanya pada orang-orang yang berlabuh di dermaga itu akan kabar anaknya, tapi ia tak pernah mendapat apapun.
Sementara Malin Kundang setelah cukup lama menikah dengan wanita itu merasa rindu pada kampung halamannya dan ingin menemui ibunya. Malin Kundang melakukan pelayaran dengan kapalnya yang paling besar dan indah bersama sang isteri dan para pengawalnya. Ia ingin menunjukkan pada orang kampungnya bahwa ia sudah menjadi orang yang sukses. Saat kapal Malin memasuki dermaga, Mande bisa segera mengetahui itu karena ia memang selalu berada di dermaga setiap hari dan ia sangat hafal dengan buah hatinya. Ia merasa bahagia karena Allah telah mendengar doa-doanya selama ini. Ketika kapal itu merapat, Malin beserta sang isteri turun. Ketika itu Mande langsung menyambut anaknya dengan gembira, ia memeluk tubuh Malin dengan erat sambil berkata, “Malin anakku, aku sangat rindu padamu nak, mengapa engkau tak pernah memberi kabar pada ibu?” melihat adegan itu isteri Malin segera bereaksi, ia meludah dan berkata, “Cuih, wanita tua, dekil, dan jorok ini ibumu Malin? Kau bohong padaku, dulu kau bilang bahwa ibumu adalah orang yang hebat dan kuat, tapi mana faktanya? Bohong!” Mendengar ucapan sang istri, adrenalin Malin memuncak, ia pun melepas pelukan Mande dengan setengah mendorong. “Malin.”, ujar Mande dengan sangat terkejut. “Siapa kau perempuan tua? Mengapa kau mengaku sebagai ibuku?”, timpal Malin Kundang. Melihat kalung yang dikenakan Malin, Mande segera membela diri, “Aku ini ibumu, nak. Aku Mande Rubayah, ibumu, dan engkaulah Malin Kundang, anakku. Dan kalung yang engkau kenakann itu dariku, peninggalan ayahmu, nak.” Malin kundang insaf tapi nuraninya sudah gelap, ia tidak mungkin ia mengakui wanita itu karena ia bisa dibenci isterinya. Akhirnya ia menyangkal lagi. “Tidak mungkin, kau pasti mengetahui namaku, nama ibuku, dan kalung ini dari orang lain. Kau tidak mungkin ibuku, ibuku sangat cantik, hebat, dan kuat, dan itu bukan kau.” “Aku lah wanita itu Malin” “Bukan, aku tidak punya ibu bau, lusuh, dan dekil sepertimu.” “Aku ibumu Malin”, teriak Mande sambil memeluk Malin kembali. “Apa-apaan ini, menyingkirlah kau dariku! Dasar perempuan gila!”, bentak Malin sembari menendang tubuh Mande yang lemah hingga Mande jatuh pingsan. Malin tidak peduli dengan ibunya, ia segera pergi dari tempat itu dan melanjutkan pelayarannya.
Sementara saat Mande terbangun dari pingsannya, tidak ada siapapun di tempat itu. Mengingat kejadian yang baru saja menimpanya, yang ia harap hanya mimpi buruk itu, ia merasa sangat bersedih, bahkan terluka hatinya. Akhirnya Mande bermunajat kepada Tuhan, “Ya Allah Yang Mahaadil, aku datang pada-Mu. Jika pemuda tadi bukanlah Malin Kundang anakku, aku maafkan segala tindakannya. Namun, jika dia memanglah anak yang selama ini kurindukan, berikan keadilan-Mu”.
Setelah doa itu selesai diucapkan oleh Ibu Malin, cuaca seketika berubah menjadi sangat buruk. Malin yang saat itu tengah berada di tengah laut merasa sangat terkejut dengan hal itu. Ia berusaha menenangkan diri sendiri dan isterinya. Namun, semua sudaj menjadi kehendak Yang Mahakuasa. Gelombang laut yang amat besar tiba-tiba menghantam kapal Malin, dan kapal itu pun hancur berkeping-keping, hanya tinggal menjadi puing-puing.
Beberapa waktu ketika badai sudah reda, orang-orang sudah menemukan batu berwujud manusia itu di tepi laut. Itulah tubuh Malin, si anak durhaka. Dan batu itu selalu dikelilingi oleh ikan-ikan kecil, itulah isteri Malin yang selalu mencari suaminya. Dan batu itu selalu minta ampun pada ibunya jika ombak menghantamnya.

“Aaaaaampun Bu!”

-Sifasa-

Kritik dan Saran yang membangun ^_^!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: