Sajak Martini dari Tapal Batas

“Cerita harus didengar”
“Cerita harus ditulis”

Aku tidak butuh sepatu untuk hormat bendera
Energiku masih cukup menempelkan jari tengah pada pelipis
Aku berimaji tentang didikanku jadi besar
Aku tak berniat sombong
Meski jabatan kuborong
Angin menerobos celah-celah raksasa kelas
Lilin yang nyalanya bunuh diri ikut berpartisipasi

Kami tunggu malaikat selatan
Beri separuh sayapmu untuk kami
Mimpi besar kami sepertimu, cukup nama kami menjelmakanmu

Mana penolong? Mana?
Tidak ada. Tidak.
Nyatanya tetangga lebih dermawan

Aliran mataku untuk anak-anakku, kudidik mereka tapi….
Mereka tak kenal rupiah
Mereka serbu Sapit untuk nasi dan bir
Keterbatasan perbatasan
Entikong, Malaysia

Merah Putih lantas bertambah biru,
Bergambar bulan bintang
Paman dan Bibi lantas Pak Cik dan Mak Cik
“Sampai kapan Indonesia ada?”
Bagi anakku dan keluarganya, Indonesia merdeka
Kecuali Entikong
“Sampai kapan INDONESIA ADA?”
Pusakaku lantas sebagai penutup takin
“SAMPAI KAPAN INDONESIA ADA?”

‘Sifasa’
Oktober 2012
(Apresiasi film “Tapal Batas”)

Kritik dan Saran yang membangun ^_^!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: