Terima gak Terima Harus Terima!

Semua terasa sesak. Rasanya roda kehidupan tiba-tiba berbalik, terjungkir, dan tanpa kuinginkan menindih seluruh tubuhku yang ringkih. Apakah Tuhan memang sengaja membalik roda kehidupan itu hanya untukku? Atau orang lain juga bisa merasakan hal yang sama dengan yang telah menjadi batinanku? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.
Baru beberapa jam yang lalu aku merasa sangat bahagia, —walaupun tidak menjadi harapan sebelumnya— ketika salah seorang yang sering kusebut sebagai sahabat mengusulkan ‘lepas rindu’ bersamaan dengan birthday-ku. Well, kupersiapkan semuanya untuk menyambut hari esok di mana orang-orang spesialku hendak bertandang ke gubuk mini ini sekaligus mensyukururi ‘kepala dua’-ku. Begitu bahagianya hingga ibunda pun ikut andil dalam segala hal yang hendak kusongsong esok hari, tak lupa juga keponakan yang sedari tadi menguping diskusiku turut menebar senyum, ditambah pula perencanaan yang serba diada-ada menyelimuti H-1 ini.
Semua beres, hingga tiba giliranku bende-bende agar informasi sampai pada mata semua belahan jiwaku. Aku senang ketika dua orang pertama membalasnya dengan senang hati. Namun, lama-lama feel¬-ku mulai berubah ketika beberapa waktu berlalu tetap dua itu yang merespon message-ku. Beberapa menit berlalu begitu lama ketika kumenunggu keputusan sohib-sohibku. Dan akhirnya satu sms lagi masuk. Oooh, serasa dunia ini kiamat tanpa berdiskusi dulu denganku. Sahabat yang selama ini dibilang karib oleh teman-teman—aku juga nganggep gitu— do’i ternyata kagak bisa jika temu kangen kami semua dilaksanain besok. Posisinya serba salah, antara aku dan ortu-nya—Yassalaaaaam, masak aku mau ngeyel ngalain ortu-nya?!! Gak banget. So, begitulah. Acara yaang belum terlaksana itu pun batal sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Terima, gak terima ya harus terima.
Sudah aku bilang pada diriku sendiri, “Jangan pernah membayangan sesuatu yang sedia untuk terjadi. Udah berkali-kali kan kaya gini. Kalo terlalu baik hayalan, maka kebalikan jugalah yang kejadian. Salah sendiri juga sih”. Entah bagaimana lagi aku menata diriku. Polaku sekarang, ‘bukan hari ulang tahun yang spesial, melainkan hari lahirku di tahun ’92 lalu ketika Allah SWT. menitipkan nyawa padaku. Dan sekarang aku wajib bersyukur karena Allah masih percaya titipkan itu pada ragaku. Bangkitlah gadis kecil, songsong usia dewasamu! 
#Bukan air mata yang tepat mendampingi kekecewaan, tapi segaris senyum yang pantas menghiasi kepiluan batin.
***
Kita lihat besok.

Kritik dan Saran yang membangun ^_^!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: