UNSUR EKRANISASI Novel Perempuan Berkalung Sorban Karya Abidah el Khalieqy dengan Film Perempuan Berkalung Sorban Karya Hanung Bramantyo

I.    Latar belakang

Suatu hasil karya sastra pada akhirnya diciptakan untuk dapat dinikmati oleh penikmat sastra. Setiap individu penikmat sastra pasti melakukan reaksi terhadap karya-karya tersebut. Reaksi teresbut kemudian disebut sebagai resepsi. Resepsi karya sastra dapat berupa komentar, kritik, sanjungan, dapat juga dengan menghasikan karya lain yang serupa, ataupun mengubah media suatu karya sastra. Kegiatan mengubah media suatu karya sastra atau transformasi media sastra itu diantaranya, musikalsasi puisi, dramatisasi puisi, novelisasi, dan ekranisasi.

Ekranisasi merupakan transformasi dari karya sastra ke bentuk film. Istilah ini berasal dari bahasa Perancis, ecran yang berarti layar. Selain ekranisasi, transformasi tersebut dapat disebut juga filmisasi.

Ekranisasi adalah pelayar putihan atau pemindahan/pengangkatan sebuah novel ke dalam film. Eneste menyebutkan bahwa ekranisasi adalah suatu proses pelayar-putihan atau pemindahan/pengangkatan sebuah novel ke dalam film. Eneste juga menyebutkan bahwa pemindahan dari novel ke layar putih mau tidak mau mengakibatkantimbulnya berbagai perubahan. Oleh karena itu, ekranisasi juga bisa disebut proses perubahan, baik itu penciutan, penambahan(perluasan), ataupun perubahan dengan sejumlah variasi.

Sesuai teori ekranisasi yang mengungkap adanya perubahan satu karya sastra ke bentuk transformasinya. Maka penulis mengnalisis adanya perbedaan antara novel Permpuan Berkalung Sorban dengan film Perempuan Berkalung Sorban yang sangat kental dengan isu feminisme.

II.   Pembahasan

2.1 Tema

Judul novel dan film tersebut ialah Perempuan Berkalung Sorban. Judul tersebut memilki unsur feminisme yang sangat kuat. Di situ digambarkan seorang perempuan yang berkalung sorban, sementara sorban pada kenyataannya merupakan simbol seorang laki-laki atau sesuatu yang lazim digunakan oleh laki-laki. Novel dan film tersebut ingin mengangkat hak-hak perempuan dan tidak hanya mengutamakan kaum laki-laki atau istilah lainnya ialah kesetaraan gender antara laki-laki dengan perempuan.

2.2 Alur

Alur yang digunakan dalam novel Perempuan Berkalung Sorban merupakan alur balik atau flashback. Mulannya Anisa dikisahkan sebagai seorang wanita dengan satu anak bernama Mahbub yang menceritakan kembali kisah hidupnya dari massa kecil hingga ia memiliki Mahbub. Sementara alur yang digunakan dalam film Perempuan Berkalung Sorban merupakan alur maju. Dalam film, langsung dikisahkan kehidupan Anisa di massa kecil hingga ia menjadi janda dengan satu anak bernama Mahbubsecara runtut dan berurutan.

Alur dalam film dibuat demikian karena jika digunakan alur flashback maka film tersebut akan terkesan bertele-tele dan membuat pennton tidak bisa segera menangkap kisah kehidupan masa kecil Anisa. Berbeda dengan nove yanng kalaupun menggunakan alur flashback tidak akan membuat kerancuan pada cerita karena pembaca mempunyai banyak waktu dan kesempatan untuk berimajinasi atas alur yang dituliskan pengarang melalui bahasa bukan audio-visual yang menuntut ketegasan dalam cerita atau to the point.

Dalam meceritakan poin demi poin kisah Perempuan berkalung Soban, tentu ada perbedaannya antara cerita pengarang novel dengan cerita penulis skenario, pebedaan tersebut seperti beriku ini.

2.2.1 Adegan 1

Kisah pembuka pada novel Perempuan Berkalung Sorban ialah ketika Anisa bermain-main di blumbang bersama kakaknya: Rizal. Hingga ia dimarahi oleh ayahnya karena telah mengajak Rizal main ke blumbang dan Rizal terjebur ke blumbang itu yang sebenarnya atas kebodohannya sendiri. Sementara dalam film dibuka dengan aksi Anisa ketika berkuda serta gelak tawa Anisa bersama Lek Khudori. Di film Anisa dimarahi karena kegiatan berkudanya yang dianggap pencilakan oleh orang tuanya.  Di situ Anisa mencoba membela diri dengan menunjuk kedua kakanya yang boleh naik kuda, sementara ia tidak. Anisa juga membela diri ketika berada di meja makan, namun ia justru semakin dimarahi karena ia berbicara sasat makan. Menurut ayahnya, perempuan tidak boleh makan sambil bicara. Anisa membantah lagi dan justru memubuat keluarganya kehilangan nafsu makan, kecuali ibunya. Film tersebut menunjukkan bahwa hak perempuan sangat sempit dan Anisa melakukan pembelaan pertamanya tentang hak-hak itu. Perempuan boleh berkuda dan jika laki-laki boleh makan sambil berbicara, maka perempuan juga harus demikian.

2.2.2 Adegan 2

Di dalam film digambarkan Anisa memakai jilbab sejak ia duduk di bangku madrasah ibtidaiyah, sementara di novel setelah ia baligh.film tersebut ingin menunjukkan betapa ketat dan kerasnya ayah Anisa lebih dari yang dikisahkan di novel. Gambaran itu juga mewakili kehidupan di pondok, terlebih Anisa ialah putrid seorang kiyai pemilik pondok.  Engan demikian Anisa dituntut untuk bisa lebih baik dari teman sebayanya bahkan menjadi contoh untuk mereka. Selain itu, pada novel ia diceritakan bersekolah di sekolah dasar. Sementara di film ia bersekolah di madrasah ibtidaiyah. Hal tersebut sangat lekat dan serasi dengan cerita yang bersetting pondok sentris.

2.2.3 Adegan 3

Ketika di dalam kelas, pada novel dikisahkan mengenai pelajaran mengeja(A-yah-per-gi ke kan-tor; I-bu me-ma-sak di-da-pur; Bu-di ber-ma-in di ha-la-man; A-ni men-cu-ci pi-ring) dan kala Anisa langsung protes kepada bapak guru mengenai hal tersebut, namun di ujung cerita Anisa hanya diam walaupun tidak terima dengan jawaban dari pak guru. Dan sesampaiya di rumah ia hanya kejelasan dari Sang bunda. Sementara dalam film, digambarkan suasana pemilihan ketua kelas. Pada pemilihan iu, Anisa lah yang mendapatkan vptt paling banyak. Namun , ia tidak boleh menjadi ketua karena ia seorang perempuan. Dan yang menjadi ketua justru rivalnya: Rizal. Saat itu juga Anisa melakukan pemberontakan dengan cara kabur dari kelas. Sesampainya di rumah ia justru dimarahi habis-habisan oleh ayahnya. Film ingin menghadirkan kisah keidakadilan gender yang lebih konkret. Ketidakadilan itu berupa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin. Dicontohkan dengan Anisa tidak bisa menjadi ketua kelas (pemimpin) karena ia perempuan, walaupun sebenarnya ia memenangkan votting.

2.2.4 Adegan 4

Di dalam film, sebelum pergi ke Kairo, Lek Khudori berpamitan pada Anisa. Dan nampak jelas dari sorot mata keduanya tidak ingin saling berpisah dan kehilangan. Namun di novel, hal tersebut tidak diceritakan, hanya tiba-tiba Lek Khudori berada di Kairo.dengan hal tersebut, Sutradara ingin menegaskan bahwa mereka benar-benar saling menyayangi da sangat dekat. Nuansa berpamitan itu juga sengaja disisipkan untuk member efek nuansa romantis atau cinta-cintaan. Sehingga manusiawi sekali bahwa putrid kiyai dan santri pondok juga bisa merasakan jatuh cinta.

2.2.5 Adegan 5

Ketika Anisa bersama Aisyah ke gedung bioskop dan digoda oleh seorang yang tidak dikenal, dalam novel mereka ditolong oleh tetangganya yang seorang tukang kebun sekaligus penjual benda-benda tajam, pak Tasmin namanya. Sementara dalam film mereka ditolong oleh dua orang santri dari pondoknya. Hal tersebut dibuat berbeda karena cerita akan lebih hidup dan logis jika Anisa ditolong oleh santri tersebut. Dan dengan begitu, berita bahwa Anisa pergi ke gedung bioskop akan lebih cepat sampai pada telinga ayahnya. Tanpa melibatkan Pak tasmin, maka tidak perlu terlalu banyak tokoh dan setting juga tidak akan meluas kemana-mana dan bisa fokus bersetting di pesantren.

2.2.6 Adegan 6

Dalam novel, setelah Anisa tamat SD dan telah menstruasi ia langsung dinikahkan. Sementara dalam film, ia telah lulus SMA dan bertekad mendaftar ke peguruan tinggi dan juga diterima.barulah setelah itu ia dipaksa menikah jika memang ingin lanjut studi. Dengan cerita yang demikian, sutradara ingi me-refresh-nya karena jika Anisa dinikahkan ketika ia lulus SD saja, maka cerita yang demikian itu seolah-olah terjadi di zaman Siti Nurbaya. Sehingga, Anisa dibuat lulus SMA terlebih dahulu dan diterima di universitas baru ia dipaksa menikah. Hal itu lebih fresh dimunculkan di tahun 2009-an daripada lulusan SD yang dipaksa menikah. Dan tak lupa sutradara menambahkan unsur-unsur materialisme dalam diri ayah Anisa  yaitu ketika Anisa dijodohkan dengan Syamsudin,karena syam ialah putra seorang kiyai besar yang diharapkan dapat memperbaiki reputasi pesantren. Dan ketika lamaran, keluarga Syamsudin juga membeikan amplopan uang kepada keluarga Anisa. Hal tersebut menunjukkan fenomena yang terjadi saat ini bahwa suap menjadi salah satu cara untuk meraih keinginan. Dan seorang  kiyai juga manusoa biasa yang tidak sempurna dan mempunyai sifat butuh terhadap dunia.

2.2.7 Adegan 7

Pemaksaan hubungan suami istri yang dilakukan symsul terhadap Anisa diwakili oleh adegan Anisa dipaksa melakukannya di kamar mandi dan juga ia dipaksa kala sedang menstruasi. Hal itu tidak diceritakan terlalu runtut seperti pada novel karena diharapkan hal-hal semacam itu tidak dapat menodai kisah film yang berbau religi. Dalam film juga diceritakan bahwa Anisa lebih beranni kepada Symsudin. Dicontohkan di situ Anisa sampai menodong Syam dengan gunting dan mencoba kabur dari rumah, hingga Syam berlutut pada Anisa. Hal tersebut menggambarkan bahwa Anisa adalah wanita yang benar-benar tidak terima jika harga dirinya diinjak-injak dan diperlakukan tidak adil.

2.2.8 Adegan 8

Dalm novel dikisahkan bahwa Anisa dan Mbak Kalsum begitu akrab karena kesamaan nasib mereka sebagai isteri Symsudin yang beringas, namun dalam film tidak demikian. Hal tersebut dibuat untuk menunjukkan betapa menderitanya Anisa dan tidak punya seorang pembela pun. Hal itu juga mencerminkan kehidupan rumah tangga poligami yang biasanya antara istri pertama dan kedua memang tidak bisa rukun.

2.2.9 Adegan 9

Dalam novel, Anisa begitu gembira dengan kedatangan leknya dan melupakan semua kesalahannya. Namun di film, kebahagiaan itu dicampuri oleh perasaaan kesalnya tengah ditinggal dulu sehingga ia harus menikah dengan Syamsudin karena ia tidak lagi mempunyai pembela.hal tersebut untuk menunjukkan sifat manusiawi Anisa yang keras kepala.betapa pun ia sangat saying dan rindu pada leknya, namun kenangan ditinggal hingga harus terjerumus pada syamsudin membuat Anisa sakit hati dan menyalahkan leknya.

2.2.10 Adegan 10

Adegan fantastis dan ekstrim dari kisah itu ialah variasi perceraian Anisa dengan Syamsudin dan perluasan ceritanya. Dalam novel dikiahkan perceraian Anisa dengan Syamsudin berlangsung dengan baik melalui perantara hakam. Dan perceraian itu atas kesepakatan dari seluruh keluarga anisa, dan ia menjadi janda yang terhormat. Sementara di film, perceraian itu dilakukan oleh Syamsudin yang mentalak anisa di hadapan orang banyak. Mulanya ialah ketika Lek Khudori ingin bertemu dengan Anisa di sebuah gubuk untuk kejelasan keadaan rumah tngga Anis dengan Syam. Di situ Anisa terbakar nafsu untuk bisa segera lepas dari Symsudin. Anisa mengumbar cinta dan kerinduannya pada Lek Khudori. Ia minta agar Khudori mencumbunya dan menzinahinya sampai-sampai Anisa melepas kerudungnya untuk itu. Untung Khudori mampu menenangkannya, dan ketika Anisa tenang justru dengan tiba-tiba Syamsudin yang tau keberadaan mereka dari surat Khudori pada Anisa yang disimpan dalam diari Anisa muncul dan membesar-besarkan masalah tersebut. Syamsudin menuduh Anisa berzina denngan bukti kerudung Anisa yang tengah lepas. Dan ketika Anisa di talak oleh syamsudin, tiba-tiba ayah Anisa terkena serangan jantung hingga meninggal saat itu juga. Variasi dan perluasan cerita tersebut bermaksud menunjukkan suatu dampak yang sangat buruk akan terjadi jika seseorang menjalani sesuatu dengan nafsu yang menbara dan menuruti bisikan setan. Mengambil keputusan ketika sedang emosi juga tidak baik sehingga tokoh Anisa harus kehilangan ayahnya, bahkan ia belum sempat minta maaf pada ayahnya. Penyesalan selalu di akhir.

2.2.11 Adegan 11

Dalam novel diceritakan bahwa Khudori lebih agresif daripada Anisa, yaitu setelah makan sate terlalu banyak, Khudori yang mengajak Anisa untuk berhubungan suami-istri. Sementara dalam film Anisa dibuat lebih agresif, ketika selesai makan di luar dan khudori mengajak jaln-jalan lagi Anisa justru minta untuk pulang ke rumah saja. Setiba di rumah Anisa berdandan cantik dan mendahului mengajak berjimak. Sutradara membuat demikian untuk menunjukkan feminism lebih kuat lagi. Jadi, seorang perempuan juga boleh mengajak lebih dulu tidak harus menunggu dan dikuasai oleh kaum lelaki. Baik suami ataupun istri mempunyai hak yang sama untuk memulai berhubungan dan menolak sesuai keadaan yang ada.

2.2.12 Adegan 12

Dalam novel diceritakan bahwa kendaraan yang dimiliki Khudori dan Anisa adalah mobil, sementara di film mereka hanya mempunyai motor butut. Hal itu untuk memaknai bahwa kehidupan Anisa dan Khudori tidak begitu mewah; hanya sederhana.

2.2.13 Adegan 13

Dalam novel tidak dijelaskan kejadian ketika Khudori kecelakaan hingga meninggal, sementara film memilih untuk menceritakan itu. Sutradara membuat demikian agar penonton tau dan lebih paham atau sependapat dengan Anisa bahwa kecelakaan yang dialami oleh Khudori adalah sebuah kesengajaan. Di film terlihat jelas bahwa Khudori dibuntuti oleh sebuah mobil sejak lama, dan ketika ia terjatuh mobil itu justru dengan sengaja menabraknya. Dan hal itu jelas bukan kecelakaan, melainkan pembunuhan.

2.2.14 Adegan 14

Adegan tambahan yang terjadi dalam film ialah ketika Anisa kembali ke pondok pesantren peninggalan ayahnya dan menyebarkan buku-buku selain kitab-kitab pondok kepada para santri, khususnya santri putri. Kemudian ia juga membangun perpustakaan umum di dalam pesantren. Dan tentunya pembangunan itu dengan perjuangan yang tidak mudah, mulai dari bertengkar dengan keluarganya dan para pengurus pondok hingga semua buku yang ia miliki dibakar habis oleh pihak pesantren. Namun anisa tidak pernah menyerah hingga keinginannya untuk membangun perputakaan tersebut menjadi sebuah kenyataan. Hal tersebut dimunculkan untuk menambah renteten perjuangan Anisa untuk mengankat hak dan kebebasan kaumnya, itu juga menegaskan betapa Anisa sangat cinta dengan ilmu dan selalu berjuang untuk menyebarkan ilmu.

2.3 Setting

Dalam ekranisasi, selain terjadi perubahan adegan juga terjadi perubahan setting:

1)   Bertemunya kembali Anisa dengan Lek Khudori di Jogja, jika dalam novel diceritakan Lek Khudori langsung mendatangi tempat kos Anisa, sementara dalam film mereka bertamu di bioskop saat Anisa usai nonton dengan teman lamanya: Aisyah. Hal itu dibuat seperti itu agar ketegangan semakin terasa dan rasa terkejut itu lebih muncul. Begitu juga suasana romantic akan secara otomatis terbentuk dengan pertemuen mereka di bioskop seperti itu.

2)   Dalam novel, bertemunya Anisa dan Khudori dengan Syamsudin ialah dalam pernikahan teman lama Anisa. Sementara dalam film, mereka bertemu saat Anisa di rumah orang tuanya dan saat itu Syamsudin datang untuk menagih hutang pada kedua kakak Anisa. Ternyata pondok pesantren peninggalan ayahnya itu dipertahankan dengan uang pinjaman dari Syamsudin. Hal tersebut dimaksudkan untuk menyempitkan setting, memfokuskan lokasi hanya pada pondok pesantren ayah Anisa saja.

2.4 Tokoh

Dalam ekranisasi novel juga banyak terjadi pengurangan tokoh dari novel ke film, semua itu karena tokoh-tkoh tersebut dirasa kurang dibutuhkan untuk membangun cerita dalam film. Tokoh-tokoh yang dihilangkan tersebut ialah: 1) Maimunah (tokoh yang diminta Anisa untuk mengajari qiraah); 2) Lek Mahmud (tokoh pembanding Lek Khudori sebagai adik ayahnya yang kurang baik terhadap Anisa);  3) Lek Umi (istri Lek Mahmud); 4) Saipul (teman Khudori); 5) Nina dan mbak Fauziah (rekan organisasi Anisa); 6) Loubna el Huraybi (sahabat Khudori ketika di berlin).

Selain pengurangan tokoh, terdapat pula penambahan tokoh dalam fim untuk mendukung cerita yaitu bu ustad, beliau adalah  pengasuh santri putri yang ikut menentang dibangunnya perpustakaan di pesantren tersebut. Beliau diceritakan sebagai seseorang yang selalu ngonangi dan menyita buku-buku umum milik santri putrid. Hal itu untuk memudahkan nalar cerita, dengan adanya pengurus putrid, maka  akan lebih leluasa untuk memasuki ruangan putri. Jika tidak demikian akan menjadi sulit karena dalam aturan pesantren, laki-laki sekalipun pengurus pondok saru untuk memasuki ruangan santriwati. Selain bu ustad, penambahan tokoh lain yaitu Ulfa, santri putri yang sifatnya mirip dengan massa kecil Anisa, dan dia mempunyai andil besar dalam membantu Anisa mendirikan perpustakaan.

III. Penutup

Ekranisasi merupakan proses pemindahan atau pengangkatan novel ke dalam film. Pengngkatan tersebut pasti menyebabkan terjadinya perbedaan-perbedaan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan media dan hasil interpretasi penulis dan sutradara yang berbeda. Mengingat penulis dalam menciptakan karya sastra hanya membutuhkan dirinya, sementara untuk membuat film, sutradara butuh bantuan atau kerja tim dari penulis skenario, pemain, penata rias, penata musik, penata cahaya dan lain-lain. Misalnya dalam novel Perempuan Berkalung Sorban, perbedaan yang sangat mencolok antara novel dan film adalah, di dalam novel ayah Anusa tidak meninggal dan setelah kematia suami Anisa: Khudori, maka cerita sudah berakhir. Tetapi dalam film, dikisahkan ayah Anisa meninggal akibat serangan jantung dan di lain sisi, perjalanan Anisa belum selesai meskipun Khudori sudah meninggal. Setelah itu Anisa masih berjuang kembali untuk mendirikan perpustakaan di dalam pesantren. Baru setelah hal itu terwujud, cerita film diakhiri.

Daftar Pustaka

Brahmantyo, Hanung.2009. Perempuan Berkalung Sorban. Film Produksi Starvision Presents.
Eneste, Pamusuk. 1991. Novel dan Film. Jakarta: Nusa Indah.
Khalieqy, Abidah.2009.Perempuan Berkalung Sorban.Yogyakarta: Arti Bumi Intaran.

6 Komentar (+add yours?)

  1. ellen
    Sep 29, 2012 @ 11:06:30

    cari buku novel dan filmnya pamusuk eneste dimana ya?

    Balas

  2. Ahmad Dg Magguna
    Okt 17, 2012 @ 17:36:42

    salam…..
    saya punya novel yang telah diterbitkan sekitar sebulan yang lalu, novel ini merupakan kerja keras, cita-cita dan harapan saya. dan saya sangat berharap mas berkenan untuk mengangkat novel saya ke layar lebar. mas bisa klik di sini tuk liat sinopsis novel saya:
    http://www.leutikaprio.com/produk/10041/novel/1207630/carbone__where_is_the_true_love/12074246/ahmad_dg_magguna.

    Balas

  3. manis sang motivator
    Agu 28, 2013 @ 11:50:33

    owh,gt ya,cukup menbantu

    Balas

  4. S. Fatichatus Sarifah
    Sep 19, 2013 @ 20:48:54

    Terima kasih telah berkunjung ke blog saya.

    Balas

  5. Anonim
    Mar 09, 2014 @ 11:37:08

    ,pengen bgt lihat film, nya wanita berkalung sorban.,
    subkhanallah.,pasth bgz

    Balas

Kritik dan Saran yang membangun ^_^!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: