Problematika Kata Majemuk dalam Kajian Morfologi Bahasa Indonesia

Problematika Kata Majemuk dalam Kajian Morfologi Bahasa Indonesia
Oleh
Siti Fatichatus Sarifah
APRIL 2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Proses morfologis merupakan proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain sehingga menghasilkan kata. Proses gramatikal atau proses gramatis akan memunculkan adanya makna gramatikal atau makna gramatis, yaitu makna yang timbul akibat bertemunya morfem yang satu dengan morfem yang lain. Contohnya morfem {meN-} tidak mempunyai makna leksikal. Oleh karena itu morfem tersebut harus bergabung dengan morfem lain agar memiliki makna. Misal, morfem {meN-} yang tidak mempunyai makna leksikal itu harus digabung dengan morfem {tari} menjadi {menari} sehingga morfem {meN-} memiliki makna ‘melakukan sesuatu seperti yang tersebut pada bentuk dasar’. Makna itulah yang disebut makna gramatikal.
Kata yang mengalami proses morfologis itu mempunyai dua ciri yaitu (1) polimorfemis, terdiri atas lebih dari satu morfem, dan (2) mempunyai makna gramatis atau makna gramatikal. Ada tiga cara yang bisa dilakukan dalam proses morfologi bahasa Indonesia. Ketiga cara itu antara lain: (1) afiksasi, yaitu proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar dengan afiks sehingga menghasilkan kata berimbuhan, (2) reduplikasi, yaitu proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar dengan morfem ulang {R} sehingga menghasilkan kata ulang, dan (3) pemajemukan, yaitu proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar yang satu dengan bentuk dasar yang lain sehingga menghasilkan kata majemuk yang memiliki makna baru.
Dalam pemajemukan sering terjadi permasalahan, baik dalam perlakuan terhadap kata majemuk maupun kerancuannya dengan bentuk yang lain (dalam hal ini adalah frasa, idiom, dan reduplikasi berubah bunyi). Oleh karena itu, penulis menyusun makalah yang membahas perlakuan terhadap kata majemuk serta perbedaan kata majemuk dengan frasa, idiom, dan reduplikasi berubah bunyi agar kata majemuk dapat diperlakukan dengan tepat oleh pengguna bahasa dan keberadaan kata majemuk tidak lagi disamakan dengan frasa, idiom, ataupun reduplikasi berubah bunyi.

1.2 Masalah
1.2.1 Apakah pengertian pemajemukan?
1.2.2 Bagaimana ciri-ciri kata majemuk?
1.2.3 Apa sajakah jenis kata majemuk?
1.2.4 Bagaimana perlakuan terhadap kata majemuk?
1.2.5 Bagaimana perbedaan kata majemuk dengan frasa, idiom, dan reduplikasi berubah bunyi?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui pengertian pemajemukan.
1.3.2 Mengetahui ciri-ciri kata majemuk.
1.3.3 Mengetahui jenis kata majemuk.
1.3.4 Mengetahui perlakuan terhadap kata majemuk.
1.3.5 Mengetahui perbedaan kata majemuk dengan frasa, idiom, dan reduplikasi berubah bunyi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pemajemukan
Sumadi (2010:132) mengemukakan bahwa pemajemukan atau komposisi adalah proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar yang satu dengan bentuk dasar yang lain dan gabungan itu menimbulkan makna baru yang menyimpang dari makna konvensional setiap bentuk dasarnya. Pengertian tersebut senada dengan yang disampaikan oleh Masnur Muslich (2008:57), yaitu peristiwa bergabungnya dua morfem dasar atau lebih secara padu dan menimbulkan arti yang relatif baru. Sementara menurut Abdul Chaer (2008:209), pemajemukan atau komposisi adalah proses penggabungan bentuk dasar dengan bentuk dasar untuk mewadahi suatu konsep yang belum tertampung dalam sebuah kata.
Dari ketiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pemajemukan merupakan proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar yang satu dengan bentuk dasar yang lain sehingga menghasilkan kata majemuk dan kata majemuk yang terbentuk itu memiliki makna baru yang menyimpang dari makna konvensionalnya.

2.2 Ciri Kata Majemuk
Sebagai kata yang telah mengalami proses morfologis, kata majemuk memiliki dua ciri umum sebagaimana kata berimbuhan dan kata ulang, yaitu (1) polimorfemis dan (2) memiliki makna gramatikal (Sumadi, 2010:133).
Menurut Sumadi (2010:134—136), kata majemuk kuga memiliki berapa ciri khusus yang akan dijelaskan sebagai berikut.
2.2.1 Menimbulkan Makna Baru
Dalam kata majemuk, terjadi pertalian makna di antara bentuk dasar yang membentuknya sehingga penafsiran makna terhadap kata majemuk tidak dapat dilakukan terhadap makna bentuk dasarnya. Sebagai contoh, kamar mandi adalah kata majemuk, sedangkan kamar saya bukan kata majemuk. Alasannya, bentuk kamar mandi merujuk pada ruangan yang dirancang khusus untuk dipakai mandi, sedangkan bentuk kamar saya menjelaskan bahwa kamar itu milik saya.
Dapat disimpulkan bahwa terjadi penyimpangan makna terhadap makna konvensional yang dimiliki setiap bentuk dasar pada kata majemuk. Penyimpangan ini bervariasi mulai dari yang agak menyimpang, misalnya rumah sakit hingga yang sangat menyimpang misalnya silat lidah.

2.2.2 Hubungan Antarunsur Sangat Padu
Hubungan antarunsur pembentuk kata majemuk sangat padu sehingga di antara unsur pembentukya tidak dapat disisipi satuan gramatis yang lain (Sumadi, 2010:135). Menurut Masnur Muslich (2008:59), bentuk majemuk tergolong konstruksi pekat.
Untuk memperjelas pernyataan tersebut, bandingkan kata majemuk rumah makan dan frasa rumah untuk makan. Kata majemuk rumah makan memang bisa didefinisikan sebagai ‘rumah untuk makan’ sehingga seakan-akan tidak ada bedanya dengn frase rumah untuk makan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kata majemuk rumah makan telah memiliki rujukan tertentu, misalnya restoran, depot, dan kafe. Jadi, tidak semua rumah yang digunakan untuk makan bisa disebut rumah makan. Selain itu kata majemuk juga diberi keterangan yang digunakan sebagai penanda bahwa hubungan antarunsur pembentuknya sangat padu.

2.2.3 Memiliki Struktur yang Tetap
Karena hubungan di antara satuan gramatis pembentuk kata majemuk itu sangat erat, maka posisinya tidak dapat dipertukarkan sehingga strukturnya tetap (Sumadi, 2010:135—136). Sebagai contoh, kata majemuk kamar tidur, tanggung jawab, dan mata air tidak dapat diubah menjadi tidur kamar, jawab tanggung, dan air mata (bentuk ini ada, tetapi maknanya tentu berbeda dengan mata air).

2.3 Jenis Kata Majemuk
Ada empat dasar yang biasanya digunakan untuk menjeniskan kata majemuk, yaitu (1) berdasarkan hubungan gramatik antar usurnya, (2) berdasarkan hubungan semantis antarunsurnya, (3) berdasarkan jumlah bentuk dasar yang membentuk kata majemuk itu, dan (4) berdsarkan kelas kata bentuk dasar yang membentuknya.

2.3.1 Berdasarkan Hubungan Gramatis Antarunsurnya
Berdasarkan hubungan gramatis antarunsurnya, kata majemuk terdiri atas kata majemuk endosentris dan kata majemuk eksosentris (Sumadi, 2010: 136)
Kata majemuk endosentris adalah kata majemuk yang unsur pembentuknya ada yang diterangkan (D) dan ada yang menerangkan (M). Strukturnya bisa berupa D-M, misalnya kamar mandi dan hari besar, atau M-D yamg pada umumnya berasal dari unsur serapan, misalnya perdana menteri dan akil balig (Masnur Muslich, 2008:62).
Sementara itu, kata majemuk eksosentris atau dwanda adalah kata majemuk yang hubungan gramatis antarunsurnya sejajar dan tidak saling menerangkan sehingga hanya bersifat kopulatif (Sumadi, 2010:136; Masnur Muslich, 2008:62). Contoh kata majemuk jenis ini adalah kaki tangan, tua muda, dan sunyi senyap.
Penulisan kata majemuk endosentris berstruktur D-M apabila diulang, cukup D-nya saja yang diulang. Adapun penulisan kata majemuk endosentris berstuktur M-D dan kata majemuk eksosentris apabila diulang, seluruhnya harus diulang (Sumadi, 2010:137).

2.3.2 Berdasarkan Hubungan Sematis Antarunsurnya
Berdasarkan hubungan sematis antarunsurnya, kata majemuk terdiri atas (1) kata majemuk yang hubungan antarunsurnya setara, misalnya tanggung jawab (2) kata majemuk yang hubungan makna antarunsurnya bersinonim, misalnya pucat pasi, dan (3) kata majemuk yang hubungan makna antarunsurnya berantonim, misalnya simpan pinjam (Sumadi, 2010:137).

2.3.3 Berdasarkan Jumlah Bentuk Dasar yang Membentuknya
Berdasarkan jumlah bentuk dasarnya, kata majemuk dapat dipilah menjadi (1) kata majemuk yang terdiri atas dua bentuk dasar, misalnya meja tulis, kepala dingin, dan membabi buta, serta (2) kata majemuk yang terdiri atas tiga bentuk dasar, misalnya telur mata sapi, kereta api cepat, dan setali tiga uang (Sumadi, 2010:137—138).

2.3.4 Berdasarkan Kelas Kata Bentuk Dasar yang Membentuknya
Menurut Sumadi (2010:138), berdasarkan kelas kata bentuk dasarnya, kata majemuk dapat dipilah menjadi delapan belas, yaitu sebagai berikut.
a. KB-KB, misalnya tuan tanah, tanah air, dan kepala batu.
b. KB-KK, misalnya kamar tidur dan kamar mandi.
c. KB-KS, misalnya orang tua, istri muda, dan kursi malas.
d. KB-KBil, misalnya roda dua, roda empat, dan langkah seribu.
e. KK-KS, misalnya tertangkap basah dan adu untung.
f. KK-KB, misalnya makan hati dan adu mulut.
g. KS-KB, misalnya keras kepala dan haus darah.
h. KBil-KB, misalnya setengah hati dan empat mata.
i. KBil-Kbil, misalnya sekali dua.
j. KBil-KK, misalnya setengah hati.
k. KB-PKK, misalnya roti bakar, buku tulis, dan ruang kerja.
l. KS-PKK, misalnya buruk sangka dan salah paham.
m. PKK-PKK, misalnya jual beli dan kerja paksa.
n. KB-KB-KB, misalnya telur mata sapi.
o. KB-KB-KS, misalnya kereta api cepat.
p. KB-KB-KBil, misalnya pedagang kaki lima.
q. KB-KK-KB, misalnya senjata makan tuan.
r. KB-KS-KK, misalnya bus cepat terbatas.

2.4 Perlakuan terhadap Kata Majemuk
Kata jemuk adalah sebuah kata yang terbentuk dari proses pemajemukan, bukan frasa sehingga perlakuan terhadap kata majemuk harus sama dengan sebuah kata. Seperti halnya kata, kata majemuk juga dapat mengalami proses afiksasi (mendapat prefiks, dan konfiks). Jika hanya penambahan prefiks tidak terlalu bermasalah, misalnya kata rumah tangga mendapat prefik {ber-} menjadi berumah tangga, contoh lain pada kata buruk sangka mendapat prefiks {ber-} menjadi berburuk sangka. Lain ceritanya dengan penambahan prefiks, penambahan konfiks pada kata majemuk rupanya mengalami masalah. Misalnya pada kata kambing hitam, jika kata tersebut mendapat konfiks {ke-an} ada yang berpendapat kata itu menjadi mengambinghitamkan ada juga yang berpendapat menjadi mengmbingkan hitam. Masalah senada terjadi pada kata tanggung jawab berkonfiks {ke-an}, satu pendapat mengatakan menjadi pertanggungjawaban pendapat lain mengatakan pertanggungan jawab. Hal itu menimbulkan simpang siur sehingga perlu dicari kebenarannya. Manakah yang benar dari beberapa bentuk di atas?
Mengacu pada ciri kata majemuk seperti yang dibahas di atas (2.2.2) bahwa hubungan antarunsur kata majemuk sangat padu, sehingga tidak dapat disisipi satuan gramatik yang lain. Berarti, dengan kata lain bentuk-bentuk seperti mengambingkan hitam, dan pertanggungan jawab merupakan contoh yang salah karena bentuk tersebut menyisipkan afiks diantara dua unsur pembentuk kata majemuk kambing hitam, dan tanggung jawab. Dengan begitu, bentuk majemuk yang tepat ketika mendapat konfiks ialah ( prefiks-kata majemuk-sufiks) seperti pada contoh ialah mengambinghitamkan, dan pertanggungjawaban.

2.5 Kata Majemuk dengan Frasa, Idiom, dan Reduplikasi Berubah Bunyi
Kata majemuk sering rancu dengan frasa dan idiom. Sebagian yang lain ada yang mengatakan ada jenis kata majemuk yang dibahas dalam reduplikasi berubah bunyi, contohnya: cantik-molek, basah-kuyup, tua renta, dan hancur luluh (Chaer, 2008:212). Sebenarnya, antara kata majemuk, frasaa, idiom, dan reduplikasi berubah bunyi tidaklah sama. Dilihat dari pengertiannya, perbedaannya nampak sebagai berikut.
Frasa merupakan satuan gramatikal yang terdiri atas dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif, lebih besar dari kata dan lebih kecil dari klausa. Non predikatif yang dimaksud ialah kata-kata pembentuk frasa tidak ada yang berkedudukan sebagai predikat. Misalnya, rumah saya, makan sate, mereka semua, dan hari Sabtu.
Idiom merupakan satuan bahasa yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna unsurnya, tidak dapat diramalkan dari makna leksikal dan makna gramatikal unsurnya. Misalnya, meja hijau, kambing hitam, panjang tangan, dan membanting tulang.
Reduplikasi berubah bunyi merupakan salah satu jenis kata ulang atau reduplikasi yang dibentuk dengan cara mengulang bentuk dasar secara utuh tetapi disertai dengan adanya perubahan bunyi vokal maupun konsonan bentuk dasarnya. Misalnya, mondar-mandir, warna-warni, corat-coret, dan sayur-mayur.
Perbedaan yang nampak dari kata majemuk dan frasa antara lain (1) kata majemuk terdiri atas dua bentuk dasar atau lebih (dapat berupa kata, pokok kata, dan morfem unik), sementara frasa dibentuk dari pengabungan dua kata atau lebih. Misalnya, kata majemuk yang terbentuk dari kata dengan pokok kata: jagung bakar, dan kata dengan morfem unik: gelap gulita. Sementara frasa terbentuk dari gabungan kata dengan kata: sudah datang. (2) kata majemuk menimbulkan makna baru yang menyimpang, sementara frasa tidak menimbulkan makna baru melainkan tetap sesuai makna leksikal. Misalnya, pada kata majemuk kepala dua yang bermakna ‘berumur 20—29’ berbeda jauh dari makna bentuk dasar penyusunnya, yaitu kepala ‘bagian tubuh yang di atas leher’ dan dua ‘angka dua’. Sementara pada frasa makan nasi, makna kata makan ‘memasukkan makanan pokok ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya’ dan nasi ‘beras yang sudah dimasak’ sehingga makna makan nasi ‘memakan nasi atau memasukkan beras yang sudah dimasak ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya’. (3) kata majemuk tidak dapat disisipi satuan gramatis yang lain sedangkan frasa dapat disisipi. Kata kamar mandi tidak dapat disisipi satuan gramatik yang lain, memang ada sebagian pengamat bahasa yang mengatakan bahwa bentuk kamar mandi dapat disisipi konjungsi untuk. Namun perlu dicermati bahwa kamar mandi dan kamar untuk mandi berbeda makna. Kamar mandi tidak hanya untuk mandi, bisa digunakan untuk buang air kecil atau sekadar cuci muka. Frasa adik mandi dapat disisipi kata sedang dan makna antara adik mandi dengan adik sedang mandi artinya sama saja. (4) struktur kata majemuk tetap sehingga tidak bisa dibolak-balik, sementara frasa dapat dibolak-balik. Diambil dua contoh yaitu sangat cantik dan mati suri. Pada pola sangat cantik dapat diutarakan dengan mmembalik unsur-unsurnya menjadi cantik sangat dan keduanya memiliki makna yang sama, itulah yang disebut frasa, mempunyai sifat dapat dibolak-balik. Berbeda keadaanya dengan kata majemuk (contoh 2), mati suri yang berarti ‘orang yang mati tetapi hanya sebentar’ jika kedua unsurnya dibalik menjadi suri mati, komposisi tersebut tidak memiliki makna apa-apa, sehingga hal itulah yang disebut bahwa kata majemuk tidak dapat dibolak-balik.
Kata majemuk dan idiom, keduanya sama-sama memiliki makna yang menyimpang dari makna unsur-unsur pembentuknaya. Bedanya, idiom penyimpangan maknanya sudah “terlalu jauh” dari makna unsur penyusunnya, seperti meja hijau, kambing hitam, dan hidung belang, sementara pada kata majemuk makna yang dihasilkan ada yang memang “jauh” ada pula yang masih bisa diraba-raba dari makna unsur pembentuknya. Contoh kata majemuk yang maknanya masih dapat diraba dari bentuk dasar penyusunnya antara lain: kamar mandi makna katanya masih berhubungan dengan kata mandi walaupun kamar mandi tidak selalu untuk mandi; dan rumah makan, walaupun sudah ada referensinya tersendiri yaitu restoran, kafetaria, ataupun warung, namun semuanya itu masih berhubungan dengan istilah makan. Selain itu, perbedaan kata majemuk dengan ialah sudut pandang menanggapi sebuah kata. Jika kata majemuk memiliki makna yang menyimpang disebut sebagai kata majemuk dari proses pembentukannya, yaitu secara morfologi, idiom dipandang dari segi semantikya, yaitu “penyimpangan” makna yang dibentuk. Jadi, suatu kata yang mempunyai penyimpangan makna itu jika dilihat dari segi morfologi adalah sebuah kata majemuk, tetapi jika dilihat dari segi semantik adalah sebuah idiom.
Mengenai kata majemuk dengan reduplikasi berubah bunyi, ada ahli bahsa yang mengatakan bahwa kata cantik molek, basah kuyup, tua renta,dan hancur luluh juga lazim dibahas dalam reduplikasi berubah bunyi. Sementara di atas telah dijelaskan bahwa perubahan bunyi yang dimakksud adalah pengulangan bentuk dasar pertama secara utuh yang mengalami perubahan bunyi vokal maupun konsonan. Lantas, apakah pada kata cantik molek, basah kuyup, tua renta dan hancur luluh bentuk keduanya merupakan pengulangan bentuk pertama? Tentu bukan. Kata molek, kuyup, renta, dan luluh bukan pengulangan dari bentuk cantik, basah, tua dan hancur, sehingga cantik molek, basah kuyup, tua renta, dan hancur luluh tidak bisa dikategorikan sebagai kata ulang atau reduplikasi berubah bunyi, kata itu merupakan golongan kata majemuk.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pemajemukan merupakan proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar yang satu dengan bentuk dasar yang lain sehingga menghasilkan kata majemuk dengan makna baru yang menyimpang dari makna konvensionalnya. Memiliki ciri umum dan khusus. Ciri umum, berupa polimorfemik dan menimbulkan makna gramatikal. Sementara ciri khususnya ialah (1) menimbulakan makna baru, (2) hubungan antarunsur sangat padu, dan (3) strukturnya tetap. Kata majemuk dapat diberi afiks, khususnya prefiks dan konfiks. Dan kata majemuk berbeda dengan frasa dan idiom, juga tidak bisa dianggap sebagai reduplikasi berubah bunyi.

3.2 Saran
Hampir terjadi kesamaan bentuk antara kata majemuk, frasa, idiom, dan reduplikasi berubah bunyi. Bagi orang awam yang sedikit pengetahuannya tentang kebahasaan, khususnya tentang pemajemukan mungkin sekilas menganggap sama, padahal terdapat perbedaan di antara bentuk-bentuk tersebut. Oleh karena itu makalah ini membahas tentang hal tersebut. Semoga penyajian ini dapat memberikan sedikit gambaran untuk dapat membedakannya. Perlu adanya upaya untuk lebih memahami dengan membaca berbagai sumber dan literatur yang terpercaya. Dan hal tersebut menjadi tugas utama pengamat bahasa serta mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia untuk meluruskannya.

DAFTAR RUJUKAN

Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Muslich, Masnur. 2008. Tatabentuk Bahasa Indonesia: Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif. Jakarta: Bumi Aksara.
Sumadi. 2010. Morfologi Bahasa Indonesia. Malang: UM Press.

About these ads

4 Komentar (+add yours?)

  1. Anonymous
    Des 03, 2012 @ 22:34:19

    tengkyu, sangat membntu untuk tugas morfologi saya

    Balas

  2. Anonymous
    Mar 31, 2013 @ 14:11:29

    Kalo bisa marpologi nya di perbanyak lgi

    Balas

Kritik dan Saran yang membangun ^_^!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 338 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: