Sinopsis Novel Jalan Menikung Karya Umar Kayam

Identitas Buku
Judul Buku : Jalan Menikung: Para Priyayi 2
Nama pengarang : Umar Kayam
Penerbit, cetakan ke- : PT Pustaka Utama Grafiti, 4
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit
Cetakan pertama: Desember 1999
Cetakan ke-4 : Juli 2002
Jumlah Halaman : ix + 184 halaman
Ukuran : 21 cm
ISBN : 979-444-412-X

Sinopsis
Cerita ini diawali dari kisah Harimurti, seorang redaktur penerbitan di Penerbit Mulia Mutu. Ia dipecat oleh atasannya karena suatu hal yang berhubungan dengan masa lalunya. Hari dikatakan sebagai staf senior yang “tidak bersih diri”. Harimurti menikah dengan Suli, wanita yang dijodohkan oleh orang tuanya. Pernikahan mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Eko. Ketika Eko kelas dua SMA, ia mendapat beasiswa dari AFS untuk menamatkan SMA di negeri itu. Beasiswanya habis, ia mendapat saran dari induk semangnya, Prof. Samuel D. Levin yang juga seorang Guru Besar mudadi Sunny Brook College untuk mencari beasiswa dan melanjutkan studi di tempat itu. Beliau juga menjamin seluruh baya hidup Eko selama proses belajar. Akhirnya Eko menerima tawaran itu setelah direstui orang tuanya. Dan setelah Eko menamatkan kuliah dengan cepat, Hari justru melarang anaknya kembali ke tanah air karena ia takut nasib buruk akan menimpa putranya akibat predikat buruk yang disandangnya hingga dipecat dari Penerbit Mulia Mutu.
Cerita kedua dari sudut pandang Lantip. Lantip ialah saudara angkat Hari, namun kebaikannya melebihi saudara kandung. Lantip menikah di usia 45 tahun dengan seorang wanita padang bernama Halimah. Ia menikah di usia tersebut karena tidak tega meniggalkan Harimurti. Pernikahan setua itu membuat ia tidak memiliki keturunan.
Cerita ketiga dating dari Eko. Eko sangat akrab dengan putri D. Levin yang bernama Claire Levin. Terlebih lagi ketika Eko dilarang orang tuanya ke Indonesia dan ia mendapatkan pekerjaan di perusahaan penerbitan Asia Book, sebuah perusahaan penerbitan di New York. Kedekatan Eko dan Claire tanpa sengaja membawa mereka pada hubungan intim sebelum menikah hingga Claire mengandung anak Eko. Kemudian Eko meminta restu kepada orang tuanya di Indonesia. Kedua orang tuanya sangat terkejut, namun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Pernikahan antara muslim-yahudi itu pun berlangsung.
Di tempat lain, di Indonesia. Keluarga besar para priyayi, Sastrodarsono, sedang mengadakan rapat besar di rumah Tommy. Tommy ialah sepupu Harimurti. Tommy sebagai pemimpin rapat sekaligus tuan rumah. Ia mengusulkan untuk pemugaran komplek pemakaman keluarga besar Sastrodarsono. Tommy ingin pemakaman itu menggunakan kijing dari marmer Italia. Semua keluarga setuju, kecuali Hari dan Lantip. Mereka minta agar makam orang tuanya tetap menggunakan kijing dan teras berwarna abu-abu dari Solo. Rapat itu berlangsung cukup panas, semua dalam pendirian masing-masing. Keadaan seperti itu membuat Tommy lagi-lagi lari pada selingkuhannya, Endang Rahayu Prameswari, seorang janda cantik yang mampu memuaskan Tommy, namun sangat gila harta. Tommy bertambah geram ketika mendengar anak perempuannya hamil dengan laki-laki berdarah Cina. Bahkan ia tidak mau datang ke pernikahan anaknya tersbut. Ia tidak mau darah priyayinya bercampur dengan darah bukan Jawa.
Kembali lagi kepada Eko dan Claire. Saat pernikahannya mereka mendapat kado dari atasan Eko berupa tiket bulan madu sekaligus tugas kantor untuk pergi ke kota-kota di Asia Tenggara, termasuk ke Jakarta. Dan mereka pun sampai di Jakarta. Di tempat itu, Claire langsung akrab dengan mertuanya dan kluarga Lantip. Ia juga akrab dengan suasana di sana, pemandangan sawah, suara gambang dan suling, suara burung dan makanan ala Jawa. Harimurti dan Suli sangat antusias dengan kedatangan putra dan menantunya. Ia ceritakan semua kejadian selama Eko di negeri orang. Tak lupa ia menceritakan tentang rencana pemugaran komplek makam Sastrodarsono. Selama di Jakarta Eko dan Claire sowan ke seluruh keluarga Sastrodarsono. Mereka disambut dengan gaya masing-masing. Tommy yang serba mewah pamer, dan kebarat-baratan. Marie juga bergaya mewah namun ala Jawa. Dan Lantip yang apa adanya namun penuh kasih sayang.
Akhirnya tibalah hari pemugaran itu. Pesta pemugaran itu lebih meriah dari pesta pernikahan. Tommy mengundang Gubernur setempat dan rekan-rekan bisnisnya. Makam-makam keluarga Sastrodarsono nampak megah dengan marmer Italia kecuali makam ayah Harimurti. Semua berjalan sesuai keinginan masing-masing yang sama-sama keras kepala. Selesai pemugaran itu, Eko, Claire, Hari, Suli, Lantip, dan Halimah pergi ke Padang untuk mengunjungi makam keluarga Halimah yang sederhana. Di sana mereka membicarakan perantauan Halimah ke Jawa, dan Eko ke New York. Mereka merenungi betapa jalan masa lalu mereka sangat menikung dan jalan masa depan juga menikung. Jalan menikung itu dapat dilalui Eko dan Claire. Mereka kembali ke New York dan Claire melahirkan seorang anak laki-laki bernama Solomon. Eko menganggapnya Sulaiman sesuai agama Islam.

Komentar
Novel Jalan Menikung lebih banyak mengandung unsur adat kejawen. Namun, tidak begitu kental lagi ketika digambarkan Eko menikah dengan warga negara asing, dan Ana yang menikah dengan keturunan Cina. Penggambaran adat Jawa itu ditunjukkan dengan penggunaan musik-musik jawa, khususnya Jogjakarta dan bahasa Jawa yang sering dimunculkan dalam dialog tokoh. Dalam novel tersebut juga banyak dimunculkan permasalahan yang akut antar keluarga.

About these ads

2 Komentar (+add yours?)

  1. Anonymous
    Agu 22, 2013 @ 13:15:50

    hy all

    Balas

  2. S. Fatichatus Sarifah
    Sep 19, 2013 @ 20:35:20

    hai juga

    Balas

Kritik dan Saran yang membangun ^_^!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 339 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: